Amerika Buka Dokumen Rahasia Peristiwa 65, Pemerintah Jokowi Didesak Lakukan Hal Serupa

Malam ini National Security Archieve membuka puluhan dokumen milik Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta pada periode 1964 sampai 1968.

Selasa, 17 Okt 2017 21:52 WIB

Mayor Jenderal Suharto pasca gerakan 30 September 1965. (Sumber: NSA)

KBR, Jakarta- Anggota International People's Tribunal 1965 (IPT '65) Reza Muharam kembali mendesak Presiden Joko Widodo segera membuka dokumen seputar  peristiwa   1965. Reza mengatakan, saat ini Amerika Serikat bahkan segera membuka dokumen telegram duta besar AS untuk Indonesia mengenai peristiwa 1965 di Indonesia, yang tersimpan di National Security Archive.

Menurut Reza, pembukaan dokumen oleh Amerika tersebut akan memperjelas keterlibatan negara tersebut dalam membantu TNI membunuh orang yang diduga anggota atau dekat dengan partai komunis. Reza berkata, langkah Amerika tersebut harus diikuti dengan membuka dokumen TNI tentang peristiwa yang sama untuk mengonfirmasi kebenarannya.

"Kita mikir tentang Amerika, tentang Inggris, tentang Australia, sementara file-file yang ada di Mabes, misalnya file-file dari Kopkamtib, kalau itu bisa dibuka, itu akan sangat-sangat menjelaskan banyak hal. Tidak paham soal regulasi, tetapi kan ada hak publik untuk mengetahui tentang sesuatu, apalagi buat kasus pelanggaran HAM berat. Tetapi intinya harus ada political will atau keinginan politik dari pemerintah Jokowi untuk pengungkapan kebenaran," kata Reza kepada KBR, Selasa (17/10/2017).

Reza mengatakan, IPT 65 bersama masyarakat sipil akan terus mendesak Jokowi agar membuka dokumen mengenai peristiwa G30S 1965. Reza berkata, tuntutan kepada Jokowi itu akan terus disampaikan, baik dari dalam negeri maupun forum internasional. Menurut Reza, desakan secara politis itu seharusnya bisa mendorong Jokowi untuk memulai membuka kembali kasus 1965, apalagi Jokowi pernah menjanjikannya dalam kampanye politiknya.

Reza berujar, dokumen yang dimiliki TNI akan sangat memperjelas peristiwa G30S, yang dampaknya hingga menewaskan banyak orang. Selain itu, dokumen TNI tersebut juga untuk mengonfirmasi berbagai dokumen yang dimiliki negara lain. Menurut Reza, Jokowi juga tak perlu khawatir akan dicap sebagai pemimpin yang pro komunis. Pasalnya, kata Reza, tuntutan masyatakat adalah agar kasus tersebut terbuka dengan jelas, bukan untuk menyalahkan kelompok tertentu. 

Sementara itu sejarawan Bonnie Triyana mengatakan, lembaga intelijen Amerika CIA pernah membuka dokumen terkait tragedi 1965 pada tahun 2003. Namun, saat itu hanya dibuka sebagian demi menjaga hubungan baik dengan Indonesia yang saat itu dipimpin Presiden Megawati Soekarno Putri. Kata Bonnie, keputusan CIA saat itu dikarenakan ada beberapa dokumen yang menyangkut Soekarno ayah Megawati.

“Karena ada yang menyebutkan tentang tindakan terhadap Sukarno, kira-kira seperti itu akhirnya ditutup lagi," jelas Bonnie. "Itu telegram CIA berisi laporan kedutaan besar Jakarta tentang keadaan politik pada tahun 65. Jadi saya juga sudah dengar bakal ada dokumen lain yang akan dibuka oleh Amerika oleh NSA,” ujar Bonnie, saat dihubungi KBR, Selasa (17/10/2017). 


Selasa (17/10) pagi waktu Amerika Serikat, National Security Archive membuka arsip rahasia milik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Puluhan dokumen itu adalah bagian dari  rekaman 30 ribu halaman  catatan kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dari tahun 1964 hingga 1968.  


Apa saja isi telegram-telegram rahasia yang kini sudah terbuka untuk publik? Silakan mulai baca dari sini - Izin Pembunuhan Massal (1)


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau