[SAGA] Pengakuan Cucu Aidit, 'Kalau Ada yang Mau Bangkitkan PKI, Bodoh' (Bagian 4)

"Kalau memang benar ada acara PKI, harusnya saya diundang. Kan saya cucu langsung, cucunya elite. Masak enggak dikasih tahu?"

Selasa, 03 Okt 2017 13:21 WIB

Fico Fachriza, cucu Murad Aidit. Foto: Istimewa/Facebook Fico Fachriza.

KBR, Jakarta - Fico Fachriza (23 tahun) tak pernah ciut nyali tiap kali ia menyebut kata Aidit. Padahal selama Orde Baru berkuasa, nama itu haram disebut apalagi dibela. 

Tapi pria bertubuh gempal ini, seakan tak peduli pada larangan tak tertulis itu. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, ia berani menyanggah sang guru yang menjelek-jelekkan Aidit. 

"Kata guru, PKI jahat. Terus saya bilang, 'Saya cucunya Murad Aidit. Ibu mau jelek-jelekin dia terus apa gimana, Bu?'," kata Fico mengenang.

Murad Aidit adalah adik kandung Dipa Nusantara Aidit alias DN Aidit---Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI). 

Di rentang 1961-1965, Murad Aidit memenuhi panggilan Sukarno belajar ke Uni Soviet (sebelum berubah menjadi Rusia). Tapi 100 hari sepulang dari Rusia, ia ditangkap, lalu dibuang ke Pulau Buru, Maluku, selama delapan tahun. 

Murad Aidit tak pernah tahu alasan penangkapannya, kecuali lantaran ia menyandang nama Aidit.

Pada 1979, Murad Aidit keluar dari Pulau Buru. Tapi ilmu ekonomi yang didapatnya dari Universitas Lumumba Moskow, terbuang sia-sia. Untuk tetap bertahan hidup, ia menjadi penerjemah dan penulis.

"Padahal dia bisa jadi salah satu cendekiawan yang hebat. Karena pada tahun itu dia menguasai tujuh bahasa," kata Fico mengenang kakeknya. 

Fico yang berprofesi sebagai Komika, tak pernah menyembunyikan latar belakang kakeknya. Ia malah mengumbarnya ke sosial media Twitter. 

Di pertengahan September lalu, ia terang-terangan menyebut sebagai cucu Murad Aidit. Ragam tanggapan langsung mengalir. 

"Responnya banyak. Tapi aku rasa itu akun-akun bot sih. Mereka bikin meme. Misalnya, 'Kudeta kok bilang-bilang, aduh mas..., emang hajatan. Silahkan ambil sepedanya'," kenang Fico sambil tertawa.

Kepada KBR, Fico bercerita tentang masa kanak-kanaknya dan apa yang dia lakukan untuk menemukan versi lain dari kejadian berdarah itu.


Pada 17 September lalu kamu mencuit bahwa kamu cucu Murad Aidit, yang ditangkap begitu pulang dari Uni Soviet, lantas dibuang ke Pulau Buru. Nenekmu juga dipenjara di Semarang dan seterusnya. Kenapa kamu membuka hal itu ke sosial media?

Karena lagi ramai banget di LBH pada 17 September 2017. Katanya di LBH ada acara PKI. 

Menurut saya enggak masuk akal. Kalau memang benar ada acara PKI, harusnya saya diundang. Kan saya cucu langsung, cucunya elite. Masak enggak dikasih tahu? Terus saya niatnya mau menetralkan, eh malah makin riuh.


Begitu kamu mencuit di Twitter, apa saja responnya?

Banyak. Tapi aku rasa itu akun-akun bot sih. Mereka bikin meme. Misalnya, 'Kudeta kok bilang-bilang, aduh mas..., emang hajatan. Silahkan ambil sepedanya'. Hahaha... Lucu banget sih mereka. 

Mungkin mereka kira aku bakal kesal digituin. Padahal, aku mah ketawa aja. Aku kan segala sesuatu dilihat dari sudut pandang komedi. Jadinya ketika digituin aku enggak ada kesel-keselnya. Lucu itu.


Apakah itu kali pertama kamu membuka latar belakang kakek ke publik?

Kayaknya sudah beberapa kali ngetwit begitu. Cuma waktu itu bukan di bulan September atau Oktober, jadi lagi enggak ramai isu itu. Jadi biasa aja.


Bisa cerita, apa yang dialami kakekmu pasca 30 September 1965?

Yang aku ingat, waktu kakek pulang dari Uni Soviet (Rusia) langsung dipanggil ke Jakarta untuk dijadikan menteri. Tapi begitu sampai langsung ditangkap. Dia lalu dibawa ke Bogor. Dari Bogor ke Bandung. 

Dalam perjalanan Bogor-Bandung, di tengah jalan kakek disuruh kencing. Di situlah manusia punya insting untuk hidup. Saat disuruh kencing, tawanan yang lain pada mau. Tapi kakek enggak mau, tetap di mobil. Nah pas kencing, yang lain ditembakin. Jadi permainan waktu itu, nanti mereka yang nembakin lapor ke atasan bahwa itu tawanan mencoba kabur.


Setelah bebas dari tanah pengasingan Pulau Buru, apa aktivitas kakek?

Sudah enggak bisa ngapa-ngapain karena sudah di-blacklist. Padahal dia bisa jadi salah satu cendekiawan yang hebat. Pada tahun itu dia menguasai tujuh bahasa. Tapi karena ijazahnya enggak diterima, jadi yang bisa diandalkan buat dia hidup cuma jadi penerjemah dan menulis. Dia hidupnya dari situ.


Setelah mendengar cerita dari kakek tentang perlakuan Orde Baru, seperti penyiksaan dan kerja paksa. Apakah ada perasaan marah?

Kalau marah sih enggak ya, karena itu tidak akan mengubah sesuatu. Apalagi hal itu sudah terjadi. Jadi untuk marah kayaknya enggak perlu. Lagi pula kalau semua keturunan PKI dendam, konflik ini tidak akan pernah selesai.


Apakah keluarga melarang kamu untuk menceritakan hal ini kepada orang lain?

Kalau mama orangnya demokratis, hanya papa yang ngelarang. Kata papa, 'Sudah enggak perlu bahas-bahas PKI di luaran. Cari masalah aja'. Menurut aku sifat ini turunan dari papa. Kenapa papa mau menikahi anak PKI?


Tapi kenapa ayah melarang?

Mungkin karena dia mengalami, mengalami susahnya hidup sebagai keturunan PKI. Papa pikir itu stigma masih berlaku sampai sekarang. Tapi menurut aku sudah berubah. Buktinya kerjaanku lancar-lancar aja, ngelawak lucu-lucu aja.


Apakah pernah mengalami diskriminasi karena latar belakang kakek yang seorang Eks Tapol?

Enggak ada. Di lingkungan stand-up comedian, teman-teman open minded. Jadi kalau di grup stand-up comedy aku sering cerita. Kayak kemaren aku akhirnya terjun ke Twitter mereka nahan-nahan.


Masih ingat tidak, kepada siapa pertama kali kamu bercerita tentang latar belakang kakek Murad Aidit?

Waktu kelas 3 SD. Kata guru, PKI jahat. Terus saja bilang, 'Bu, saya ini cucunya DN Aidit.' Lalu guru saya bilang, 'Jangan bercanda kamu'. Lalu saya jawab, 'Bener Bu. Kan DN Aidit punya adik Murad Aidit. Nah Murad Aidit ini kakek saya. Jadi mama saya anaknya Murad Aidit, saya cucunya. Ibu mau jelek-jelekin dia terus apa gimana, Bu?' Lalu dia ngajarnya kayak ketahan gitu. Hahaha...


Ada beban tidak saat menceritakan hal itu kepada orang lain?

Kalau aku orangnya doyan cerita. Jadi kadang aku bagiin ke internet. Misalnya aku pakai narkoba aja aku bagikan di Youtube. Apalagi aku enggak bisa memilih lahir di keluarga mana. Jadi menurutku, enggak ada beban sih.


Setelah mendengar kisah kakek, apakah kamu juga mencari tahu lebih tentang peristiwa 30 September 1965?

Enggak sih. Paling ikut-ikut mama ke acara Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Setidaknya di acara itu, aku merasakan kehangatan. Jadi kalaupun benar dulu ada konflik, sudah hilang semuanya.

Sesuai dengan visi-misi FSAB, menghapus luka lama dan tidak membuat konflik baru. Jadi kayaknya tercoreng kalau ada yang goreng isu PKI bakal bangkit.  


Anak muda sekarang masih dicekoki narasi tunggal dari Orde Baru tentang kejadian berdarah itu. Ada pesan buat anak muda, bagaimana mestinya menyikapi kasus semacam ini?

Buat anak muda, kalian belajar aja yang bener. Kerja. Karena itu yang paling penting. Bergaul dan buat koneksi. Berteman sama siapa aja. Jadi kalau ada yang nyebut-nyebut kebangkitan PKI-PKI gitu, it’s so old school man... Gerakan itu gagal. Kalau sampai ada yang bikin partai PKI, itu bodoh aja. Sudah tahu generasi pertama habis dibantai, generasi kedua susah hidupnya. Jadi enggak ada gerakan kudeta PKI, nggak bakal bisa. Indonesia harus tetap satu.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Korea Utara Peringatkan Australia

  • CIA Ingatkan Korea Utara Mampu Serang Amerika dengan Rudal
  • Obama dan Bush Prihatinkan Kehidupan Politik di Amerika Serikat
  • Kota Raqqa Suriah Hancur