Bayi Santi Rambu Lokat dan Sinta Ananda Rambu Nahu, kembar keluarga Yulius Wuku Lalupanda dan Orpha Dunga Hau, terbaring lemah di rumahnya di Tana Wurung, Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera, Sumba Timur, NTT. (Foto: KBR/Heinrich D.)

KBR, Waingapu-  Bayi kembar hidrosefalus asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur tak bisa berobat. Bayi Santi Rambu Lokat dan Sinta Ananda Rambu Nahu,  kembar keluarga Yulius Wuku Lalupanda dan  Orpha Dunga Hau, terbaring lemah di rumahnya di Tana Wurung, Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera itu tak memiliki   Kartu Indonesia Sehat (KIS) .

Sejak lahir sekitar satu setengah tahun  lalu, Santi dan Sinta (anak ke lima dan ke enam)   terserang  hidrosefalus  yang menyebabkan kepala kedua anak ini makin membesar dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan tubuh keduanya tidak normal.


“Saya tanya waktu saya sudah sadar karena operasi angkat, paginya saya tanya ibu dokter, saya liat dong punya mata kayak lain. Sudah beda dengan anak lain matanya besar. Saya juga sebagai ibu kandung kaget sendiri waktu itu. Jadi saya tanya ibu dokter kenapa saya punya anak punya mata, ibu dokter jawab ada kelaianan mata,” jelas ibu bayi  kembar Sinta dan Santi,  Orpha Dunga Hau di rumahnya di Tanawurung, Lambanapu, Kamis (13/10/2016).

Tambah Orpha Dunga Hau, sejak awal sudah disarankan untuk membawa berobat anaknya ke Denpasar, karena di Rumah Sakit di Sumba belum bisa menangani. Tetapi karena kendala biaya maka sampai sekarang ke dua anaknya belum dibawa berobat ke Bali.

Lanjut Orpha Dunga Hau, suaminya tidak punya pekerjaan tetap, sedangkan dirinya juga tidak ada pekerjaan, ditambah kartu BPJS KIS anaknya tidak keluar-keluar maka dirinya pasrah saja dengan situasi ini.


“Andaikan saya urus (Kartu BPJS KIS) kalau saya daftar  mereka bilang ada bantuan untuk biaya di sana. Tapi yang saya pikir lagi seandainya jadi mereka pergi ke Bali, ongkos kapal dan uang makan, kos rumah lagi, itu yang menjadi beban saya sebagai orang tuanya. Jadi kayak saya acuh saja waktu itu,” kata ibu bayi  kembar Sinta dan Santi yang terserang hidrocephalus, Orpha Dunga Hau.

Masih kata Orpha Dunga Hau, pada September lalu berat badan kedua anaknya turun drastis, Santi berat badannya tinggal 4.9 Kg, Sinta 6.1 Kg,  dirinya bingung dan berharap ada pertolongan untuk anaknya.


 “Yang pertamanya Pak, kita layani dengan teh saja. Terus terang saja, dorang hidup di teh sudah, makan buburpun tidak, hanya sedikit-sedikit dorang makan tidak seperti biasa. Kalau sudah kasi pagi, sore baru dorang makan, siang tidak  mau makan. Hidup dari air teh saja siang malam. Nah baru-baru dorang sakit baru dong hidup dengan susu," ujar Orpha Dunga Hau dengan mata berkaca-kaca menceritakan keadaan anak kembarnya.

Kata Orpha Dunga Hau, kartu BPJS KIS untuk kedua anaknya baru keluar sebulan lalu setelah diurus cukup lama.

Dari pantauan KBR di rumah keluarga bayi kembar terkena hidrosefalus, ke dua bayi terkulai lemah. Terlihat kepala mereka membesar, mata lebih besar dari seharusnya dan terdorong ke depan, kondisi keseluruhan terlihat seperti kurang gizi.


Editor: Rony Sitanggang





 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!