Muncul pulau-pulau baru di Laguna Segara Anakan akibat pendangkalan yang disebabkan sedimentasi. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)


KBR, Cilacap– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menilai sudetan Sungai Citanduy adalah upaya paling efektif untuk mencegah banjir sekaligus menyelamatkan Laguna Segara Anakan.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalpos) BPBD Cilacap, Gatot Arif Widodo mengatakan saat ini Laguna Segara Anakan sudah mengalami pendangkalan dan penyempitan.

“Pada awalnya, laguna memiliki luas hingga 6000 hektar lebih. Namun, kini tersisa kurang dari 400 hektar,” jelas Gatot, Senin, (3/10/2016).  

Itu pun, kata dia, hanya berupa aliran sungai yang diapit hutan mangrove. Sedangkan kawasan lainnya sudah menjadi hutan mangrove karena telah terjadi pendangkalan.

Gatot menjelaskan, pada 1997, wacana penyudetan sungai sudah mengemuka. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan laguna segara anakan yang semakin mendangkal. Dengan begitu, ekosistem laguna yang merupakan wilayah perkembangbiakan ikan bisa diselamatkan.

Namun, rencana sudetan ini terkendala penolakan Pemerintah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Menurut Gatot, masyarakat Jawa Barat menolak karena sudetan dianggap akan mengancam pariwisata di Pantai Parigi dan Pangandaran.

“Di tahun 1997 itu ada pembentukan PMO, kantor kecil. Di sepanjang Selat Nusakambangan itu adalah home ground ikan. Dunia mengakui, bahwa itu harus di selamatkan. Karena itu adalah rumahnya ikan untuk Laut Selatan. Berkembangbiakan ikan Laut Selatan itu di situ. Baik lewan Plawangan maupun Teluk Penyu. Maka diambil dua langkah strategis. Pertama dengan penanaman bakau, yang kedua dengan melakukan penyudetan,” tambahnya.

Lebih lanjut Gatot Arif mengemukakan, satu-satunya jalan agar sudetan bisa terealisasi adalah komitmen pemerintah dua Provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Tanpa komitmen itu, Laguna Segara Anakan tetap terancam. Dan Banjir akan terus menghantui puluhan desa di wilayah Kabupaten Cilacap yang terpengaruh pasang surut air laut.”

Gatot menambahkan, upaya lain mencegah banjir dan pendangkalan Segara Anakan adalah dengan membuang sedimentasi di muara laguna yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Yakni, di Pintu Plawangan dan Rancababakan. Sedimen tersebut, kata dia akan langsung dibuang menjauh ke tengah laut.

Beberapa kecamatan saat ini menjadi daerah langganan banjir, antara lain Kecamatan Sidareja, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari, Kawunganten dan Kecamatan Kampung Laut.

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!