Petani di Desa Sidomulyo Kecamatan Megaluh, Jombang menunjukkan buah semangka yang membusuk setelah terendam air banjir beberapa hari. (Foto: KBR/ Muji Lestari)


KBR, Jombang – Petani semangka di Jombang, Jawa Timur gagal panen lantaran ratusan hektar tanaman buah mereka rusak.

Kondisi ini menyusul hujan deras dalam beberapa hari terakhir. Alhasil, air merendam batang dan buah semangka yang telah berumur sekitar dua bulan itu. Salah satu petani asal Desa Sidomulyo, Kaspo mengungkapkan, semangkanya tak lagi bisa diselamatkan karena batang, akar hingga buahnya telah membusuk usai terendam air beberapa hari.

"Semuanya mati, kena air kan hujan selalu tiba-tiba datang, banjir. Kan akarnya nggak bisa tumbuh lagi, busuk dan nggak bisa berbuah. Mau nggak mau ya dibiarkan, sudah nggak bisa ditolong lagi," keluh Kaspo di Jombang, Sabtu (15/10/2016).

Ia pun memperkirakan, kerugian gagal panen mencapai belasan juta Rupiah perhektar. Sebab sekali tanam, menurut Kaspo, para petani menghabiskan biaya produksi, bibit, hingga sewa lahan senilai Rp14,5 juta perhektar.

"Kalau biayanya mencapai Rp1,5 juta per-ratusnya, rugi. Sekarang bibitnya saja perbungkusnya saja Rp100.000, padahal perhektar ini butuh sekitar 20 bungkus. Ini sawahnya juga menyewa, perhektarnya Rp2,1 juta," paparnya.

Baca juga:

Selanjutnya, para petani berencana mencabuti tanaman semangka dan menggantinya dengan padi. Atas kejadian ini, para petani berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat lantaran gagal panen merupakan dampak La Nina dan cuaca yang tak menentu, sehingga mereka bisa kembali menanami lahan.

Selain semangka, tanaman buah sejenis juga hancur. Di antaranya blewah, timun emas, dan melon. Jenis buah-buahan itu merupakan tanaman yang pas ditanam pada musim kering atau kemarau sebab tidak terlalu membutuhkan banyak air.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!