Ilustrasi. Pembangunan jalan tol. Foto: Binamarga



KBR, Banyuwangi- Proyek pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi,  Jawa Timur,  sudah memasuki tahap tender.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan tahap penyelesaian perencanaan sudah rampung. Kata dia, saat ini proyek tersebut memasuki tahap tender.  Dia memastikan tidak ada masalah berarti terkait pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol. Sebab menurutnya separuh lahan yang akan digunakan adalah milik pemerintah.

Basuki menjelaskan, dari total lahan sekitar 50 kilometer adalah milik PTPN atau Perhutani. Proyek jalan tol yang dibangun untuk mengatasi kemacetan jalur Pantai Utara bagian timur tersebut ditargetkan rampung pada 2019.

Ia tidak bisa menyebutkan besaran anggaran karena masih dalam perencanaan desain.

“Probolinggo-Banyuwangi 170 kilometer, sekarang lagi tender atau lelang kebetulnya trasenya 98 kilo melalui hutan. Sehingga mungkin pengadaan tanahnya kita bisa pakai lahan BUMN Perhutani itu, makanya kita berani tender habis itu langsung bekerja. Karena ini sudah tender mungkin tahun ini pemenangnya sudah ada,”kata Basuki Hadimuljono, Senin (10/10/2016).

Sementara itu, jalan tol sepanjang 156 kilometer ini melewati tiga kabupaten, yakni Probolinggo sepanjang 26 kilometer, Situbondo 103 kilometer, dan Banyuwangi 27 kilometer. Pembebasan lahan untuk jalan tol di tiga kabupaten tersebut seluas 1.325 hektare. Dengan rincian, 434 hektare lahan permukiman, sawah 197 hektare, dan perkebunan 694 hektare.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum di Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Banyuwangi, estimasi dana yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan tol ini sebesar Rp 6,7 triliun. Jalan tol Probolinggo-Banyuwangi ini menjadi kelanjutan pembangunan jalan tol Pasuruan-Probolinggo melalui jalur Pantai Utara atau Pantura.

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!