Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di tenda-tenda padepokan di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). (Foto: ANTARA)


KBR, Rembang – Sedikitnya lima orang warga Rembang, Jawa Tengah teridentifikasi pernah menjadi pengikut Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur.


Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Rembang, Kartono mengatakan lima warganya itu bahkan sempat tinggal di padepokan itu.

Kartono mengatakan sudah menemui mereka, dan meminta agar tidak menyebarkan paham menyimpang.

"(Kami sebelumnya) coba untuk mencari informasi apakah di Rembang itu ada yang terlibat. Ternyata sudah kembali ke rumahnya masing–masing. Ada sekitar lima orang (pengikut). Cuma kami belum bisa memantau menyeluruh. Mereka percaya (Dimas Kanjeng), karena terpengaruh oleh teman–temannya. Saya tanya siapa yang mempengaruhi, mereka tidak mau menceritakan itu," kata Kartono kepada KBR, Rabu (5/10/2016).

Mabes Polri telah menetapkan Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan pembunuhan. Taat Pribadi merupakan pemimpin padepokan Dimas Kanjeng, yang mengklaim dirinya mampu menggandakan uang.

Kartono mengatakan dari keterangan warga eks pengikut itu, mereka mengaku tertarik dengan padepokan tersebut karena mengiming–imingi penggandaan uang.

"Sesuatu yang tidak masuk akal itu, warga jangan mudah percaya. Dalam tiap rapat koordinasi bersama kepala desa, saya sudah menyampaikan masalah itu, agar diteruskan ke masyarakat," kata Kartono.

Anggota DPRD Rembang, Gatot Paeran meminta agar tiap desa meningkatkan kelembagaan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat yang sudah terbentuk untuk aktif berperan mengawasi kelompok-kelompok di masyarakat.

"Kalau menemukan indikasi kelompok menyimpang, bisa dilakukan pendekatan secara persuasif. Sebaiknya segera dilaporkan, untuk penanganan lebih lanjut," kata Gatot.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!