Asap terlihat mengepul tinggi setelah pesawat tempur Arab Saudi menyerang kawasan pemakaman di Sanaa, ibukota Yaman, Minggu (9/10). Serangan Arab Saudi itu menewaskan 140-an orang. (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR - Perserikatan Bangsa-bangsa PBB memberlakukan gencatan senjata selama tiga hari atas tragedi perang sipil di Yaman. Gencatan senjata akan mulai berlaku efektif pada Kamis mendatang.

Pengumuman itu disampaikan utusan khusus PBB untuk Yaman, smail Ould Cheikh Ahmed.

Gencatan senjata itu sebelumnya pernah diterapkan pada April lalu, dan akan mulai diberlakukan lagi pada Kamis (19/10/2016) mulai pukul 00.

Gencatan senjata diberlakukan setelah sebelmnya Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi setuju untuk mengikuti perdamaian sementara, pada Senin lalu. Persetujuan itu disampaikan Mansour Hadi atas permintaan dari dunia internasional, seperti PBB, pemerintah Amerika Serikat dan Inggris.

PBB telah dikontak negosiator dari pemerintah Yaman dan milisi bersenjata Houthi dari kelompok Syiah. Gencatan senjata selanjutnya akan diikuti dengan pembuatan rancangan baru perdamaian untuk Yaman.

Gencatan senjata itu juga untuk memastikan penanganan kemanusiaan bisa terlaksana terutama terhadap masyarakat sipil korban konflik.

Namun pemerintah Yaman menginginkan agar gencatan senjata juga diikuti komitmen dari kelompok Houthi untuk mengakhiri pengepungan di Kota Taez, kota ketiga Yaman. Hal itu untuk memastikan tim bantuan dari sejumlah lembaga kemanusiaan bisa masuk dengan aman ke Kota Taiz.

Yaman diguncang perang saudara sejak ibukota Yaman, Sanaa, dikuasai kelompok milisi sipil bersenjata Houthi Syiah pro-Iran pada September 2014. Kelompok ini mendukung bekas Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.

Sejak saat itu konflik perang sipil di Yaman meningkat setelah tentara koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok milisi Houthi Syiah pada Maret 2015. Arab Saudi menuding Iran berada di balik kegiatan milisi Houthi.

Pasukan koalisi melakukan serangan ratusan kali baik lewat udara maupun darat untuk mendukung militer kubu Presiden Yaman Mansour Hadi. Terbaru, serangan udara dari tentara Arab Saudi menewaskan 140 orang yang tengah menghadiri acara pemakaman di Sanaa.

Pemerintah Arab Saudi mengklaim serangan udara itu mestinya menyasar para pemimpin dari kelompok Houthi, namun karena kesalahan dari informasi intelijen, serangan itu justru mengenai sasaran yang salah.

Menurut data PBB, konflik perang sipil di Yaman diperkirakan telah menewaskan 6,900 orang, melukai 35 ribu orang dan menyebabkan sekitar tiga juta orang mengungsi sejak Maret tahun lalu.

Yaman merupakan salah satu negara termiskin di jazirah Arab. Konflik perang sipil menyebabkan jutaan warganya hanya bisa mengandalkan bantuan makanan, air bersih dan obat-obatan dari bantuan donor internasional.

Upaya perundingan dua pihak yang bertikai di Yaman sudah dilakukan sejak Agustus lalu di Kuwait, namun tidak menemukan itik temu. (BBC/Aljazeera/Daily Mail) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!