Nelayan Kepiting di Nunukan Berhenti Melaut

Harga kepiting yang biasanya mencapai Rp50.000 per 30 gram menjadi Rp.15.000 saat ini.

Jumat, 14 Okt 2016 11:10 WIB

Kepiting tangkapan nelayan. Foto: Adhima Soekotjo/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Nunukan– Puluhan nelayan pencari kepiting di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara berhenti melaut dan berganti pekerjaan lain karena harga kepiting jatuh di pasaran. Harga kepiting yang biasanya mencapai Rp50.000 per 30 gram menjadi Rp.15.000 saat ini. 


Ketua kelompok nelayan kepiting, Rusdi mengatakan, dari 50 orang anggotanya saat ini  hanya tinggal 10 nelayan yang  turun ke laut mencari kepiting.

”Kalau sekarang  di pasar pasar itu kena 15 sudah. Bilangnya pengumpul ini susah jadi dikasih turun harga. Biasanya kalau kemarin sampai 50," ujar Rusdi, Jum’at (14/10/2016).

Rusdi menuturkan, para nelayan juga mengeluhkan keberadaan puluhan nelayan Filipina yang berada di wilayah perbatasan  Sungai Ular. Menurutnya, keberadaan nelayan Filipina itu membuat area pencarian kepiting nelayan di Nunukan berkurang.

”Kalau daerah Kanduangan jarang sudah kita masuk situ, disitu Filipina semua. Sungai ular itu banyak semua. Baru dia itu  tinggal disana, bukan di perbatasan di daerah kita, di rumah tambak-tambak jebol yang ada rumahnya,” imbuhnya.

Rusdi menambahkan, dari segi penjualan, nelayan Filipina juga diuntungkan dibandingkan nelayan lokal. Nelayan Filipina bisa menjual kepiting dengan harga mahal hingga Rp160.000 per kilo ke Tawau, Malaysia. Sementara nelayan lokal tidak boleh karena ada larangan dari Kementrian Perikanan dan Kelautan.

Baca juga: Defisit Anggaran, Pemkab Nunukan Minta Biaya Berobat RSUD Dinaikkan


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.