Ilustrasi pelarangan liputan. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Reporter KBR dihalang-halangi oleh massa intoleran saat meliput aksi penolakan mereka terhadap pembangunan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Massa intoleran yang berjumlah puluhan orang itu menuding reporter KBR sebagai provokator dalam aksi mereka.  Pelarangan liputan juga dilakukan oleh Kepolisian Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan alasan stabilitas nasional.

Berikut kronologis pelarangan liputan penolakan pembangunan GBKP Pasar Minggu, pada Minggu (2 Oktober 2016):  

7.45  Reporter KBR tiba di  GBKP Pasar Minggu. Jemaat beribadah. Reporter wawancara pendeta GBKP, Penrad Siagian.

7.55  Menunggu di depan gereja, sementara jemaat ibadah. Di sekitar gereja dijaga Satpol PP.

9.00  Ibadah selesai. Reporter KBR posting di twitter, bahwa aktivitas ibadah di gereja selesai.

9.05  Reporter KBR keluar kawasan GBKP Pasar Minggu, sekitar 50 meter dari gereja sudah berkumpul puluhan orang yang mengatasnamakan warga sekitar menyampaikan penolakan pembangunan gereja. Kelompok intoleran itu dihadang polisi setempat. Polisi juga mengambil megaphone. Reporter KBR mendekati kerumunan massa.

9.20  Setelah mendekat dan melihat penghadangan polisi, Kapolsek Jagakarsa Sri  Bhayakari melarang awak media meliput aksi penolakan pembangunan gereja dengan alasan menjaga stabilitas nasional. Massa langsung mengintimidasi wartawan, dengan menunjuk-nunjuk ke arah wartawan. Kelompok intoleran menuding wartawan yang meliput sebagai provokator dan memaksa wartawan pergi dari lokasi. 

9.30  Karena ingin mendapat informasi, reporter KBR tetap bertahan di sekitar lokasi. Namun malah dihampiri salah satu anggota dari kelompok intoleran. Dia menanyakan alasan reporter KBR meliput dengan nada tinggi, mimik muka marah, dengan jarak wajah sekitar 30 centimeter dari reporter. Reporter kemudian menjawab ini penugasan kantor, namun dia menuduh peliputan ini menyimpan maksud tertentu. Orang tersebut menuding pemberitaan media selama ini bias dan cenderung memojokkan kelompok muslim. Agama reporter kemudian juga menjadi bahan pertanyaan. Puluhan orang mulai mengerumuni reporter, namun 3 polisi mencoba menghalangi massa intoleran sembari tetap meminta reporter meninggalkan lokasi. Kapolsek meminta kejadian ini tidak diekspose, dengan alasan akan mengganggu stabilitas nasional. Dan, meminta wartawan meninggalkan lokasi. Suasana masih ricuh, reporter KBR kemudian diarahkan polisi untuk menjauh dari lokasi.  Wartawan diminta bubar. Kelompok intoleran mengatakan, aksi mereka akan bubar apabila wartawan juga bubar. Saat berjalan meninggalkan lokasi, reporter dihampiri orang yang mengaku sebagai Ketua RW setempat. Dia menuding reporter KBR sebagai provokator lantas mengusir reporter KBR dengan nada tinggi. Akhirnya, reporter menunggu di depan gereja.

Baca: Jemaat GBKP Pasar Minggu Tetap Beribadah Meski Dilarang Pemkot Jaksel

Baca: KBR Sesalkan Pelarangan Liputan Penolakan Pembangunan Gereja di Pasar Minggu

10.00  Reporter dan wartawan detik.com memutuskan untuk kembali ke tempat massa intoleran berkumpul dengan tujuan ingin wawancara dengan Wali Kota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi. Sebab saat itu sedang digelar mediasi antara Pemkot dengan warga yang menolak, di salah satu rumah warga—jaraknya sekitar 150 meter dari GBKP. Sampai di lokasi mediasi, setelah bersalaman dengan beberapa warga, reporter kembali ditanya tentang tujuan ke rumah itu. Reporter menjawab, untuk tujuan peliputan dan konfirmasi ke Walkot soal pelarangan ibadah di GBKP Pasar Minggu. Karena mediasi masih berlangsung maka reporter menunggu di luar rumah. Warga di sekitar rumah itu rupanya menandai reporter KBR, hal itu ditunjukkan dengan ekspresi dan pernyataan: Ohh, ini ni orang yang tadi. Beberapa saat kemudian, 4 orang tepat di depan reporter mengambil foto secara diam-diam. Tak lama, seorang warga yang mengenakan baju koko (dengan logo FPI di bahunya) mendekat dan menanyakan reporter dari media mana diikuti dengan memeriksa ID Pers. Selanjutnya, mereka melanjutkan mengambil foto diam-diam. Merasa tidak nyaman, reporter KBR memutuskan untuk pindah dari lokasi itu.

10.30  Reporter KBR menghubungi Koordinator Liputan KBR untuk meminta izin kembali ke kantor.

11.10  Reporter kembali ke kantor.

Hingga berita ini diturunkan, KBR masih mencari informasi ke warga sekitar terkait massa intoleran yang mengaku dirinya sebagai warga sekitar dan ke polisi Jagakarsa terkait alasan pelarangan liputan. 


Berita lain: Diintimidasi Karena Tulis Berita PON, Tribun Jabar Lapor Polisi

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!