Kekurangan Tempat Rehabilitasi, Puluhan Warga Aceh Masih Dipasung

"Mudah-mudahan bupatinya di kabupaten/kota masing-masing bisa menyediakan suatu tempat, karena gak mungkin semua dipusatkan di provinsi"

Senin, 10 Okt 2016 21:18 WIB

Ridwan (53) warga yang dipasung asal Desa Nga, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. (Foto: KBR/Erwin J.)



KBR, Lhokseumawe– Puluhan warga di Provinsi Aceh,  dipasung akibat mengalami gangguan jiwa. Hampir sebagian besar yang dipasung itu disebabkan faktor trauma bencana alam tsunami, konflik, narkotika dan bahan-bahan berbahaya (narkoba) dan ekonomi.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Hanif mengatakan,  sudah berupaya mengatasi secara medis orang dengan gangguan kejiwaan (ODGK)  tersebut. Akan tetapi, kurangnya dukungan pemerintah daerah untuk penanganan rehabilitasi mengakibatkan si pasien kembali bermasalah dengan penyakit gangguan jiwa.

”Tidak hanya Kita rawat cukup dengan obat tidak, orang-orang seperti ini perlu kegiatan supaya pikirannya tidak terganggu lagi dan lebih terarah. Kemudian memang Kita belum punya untuk pusat rehabilitasi gangguan jiwa. Mudah-mudahan bupatinya di kabupaten/kota masing-masing bisa menyediakan suatu tempat, karena gak mungkin semua dipusatkan di provinsi pasti gak akan tertampung. Kita ada 19 ribu pasien  dengan gangguan jiwa, ” kata Hanif kepada KBR, Senin (10/10).

Berdasarkan data secara total pengidap gangguan jiwa di Aceh berjumlah 19 ribu orang. Dengan, 80 orang di antaranya masih berstatus dipasung. Kata Hanif kerap pasien yang sudah sembuh saat dipulangkan ke keluarganya kambuh dan kembali dipasung.

”Coba umpamanya si pasien yang Kita bebas pasung ini, kalau tidak salah Saya sudah yang keempat kalinya dibebaskan pasungnya. Begitu sudah sembuh diobati dan pulang ke kampungnya langsung bermasalah lagi dengan kejiwaan, karena tidak ada tempat rehabilitasi,” lanjutnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.