Tim SAR menyisir perairan Bengawan Solo untuk mencari korban perahu tambang yang terbalik, di kawasan Ponpes Langitan, Kecamatan Widang, Tuban, Jawa Timur. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Sebanyak lima dari tujuh santri Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur yang tenggelam di Sungai Bengawan Solo, ditemukan dalam kondisi tewas. Tim gabungan di bawah koordinasi Badan SAR Nasional (Basarnas) masih melakukan pencarian terhadap dua santri lainnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Suprapto menuturkan, jenazah lima korban itu ditemukan di sekitar perairan Bengawan Solo, sore tadi.

"Ditemukan sekitar pukul 15.45 WIB. Beberapa korban mengapung di sekitar sungai yang berjarak 100 hingga 200 meter dari tempat kejadian," jelas Suprapto saat dihubungi KBR, Sabtu (8/10/2016).

Pada Jumat (7/10/2016), sebuah perahu berpenumpang yang diduga kelebihan muatan, tenggelam di perairan Bengawan Solo. Sebanyak 25 santri Pondok Pesantren Langitan dengan tujuan ke Pasar Babat tenggelam di perairan perbatasan Kabupaten Tuban dan Lamongan tersebut.

Keterangan tertulis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memperkirakan, perahu tersebut kelebihan muatan sehingga miring kemudiam tenggelam di Bengawan Solo.


Identifikasi Korban

Sementara itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Timur tengah mengidentifikasi lima korban yang berhasil ditemukan. Selain itu, posko khusus juga disiapkan untuk mengidentifikasi korban lain yang sewaktu-waktu ditemukan.

"Lima santri yang sudah ditemukan sedang dalam proses identifikasi oleh Basarnas, BPBD dan DVI," kata Suprapto.

Baca juga:

Sebanyak 18 dari 25 santri penumpang perahu tambang di Perairan Bengawan Solo dinyatakan selamat. Sementara lima orang tewas dan dua masih dalam tahap pencarian.

Tim gabungan yang dikerahkan dalam pencarian tersebut terdiri atas 15 orang, dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas dan masyarakat setempat. Sebanyak enam perahu turut membantu proses pencarian korban.

Debit Bengawan Solo yang cukup besar menjadi salah satu kendala tim SAR dalam pencarian korban. Hal tersebut diperparah dengan kondisi air sungai yang keruh akibar hujan deras.





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!