Foto: spanduk penolakan warga di depan GBKP. Foto: KBR


KBR, Jakarta-  Tidak semua warga tidak setuju dengan pembangunan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Jalan Tanjung Barat Lama, No. 148 A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Salah satunya, yaitu Sinta, ibu paruh baya yang sudah tinggal di Tanjung Barat Lama selama 12 tahun. Menurutnya warga tidak dirugikan dengan kehadiran gereja. Sehingga, kata dia tidak ada alasan untuk menolak pembangunan gereja tersebut.


"Saya dengar memang tidak boleh gereja itu ada di sini. Tapi memang alasannya tidak tahu. Tapi saya sih menyetujui. Karena warga sini tidak dirugikan sama sekali. Saya sudah 12 tahun di sini, tidak pernah tersirat warga sini merasa terganggu atau dirugikan,"ujarnya.

Berbeda dengan Putra, warga Tanjung Barat Lama yang mempersoalkan izin bangunan gereja yang tak sesuai dengan peruntukannya. Ia meminta jemaat tidak beribadah di situ sebelum mendapat izin bangunan gereja.

"Masyarakat banyak yang ngga suka. Reaksi ngga ada. (Demo orang sini?) iya orang sini. Demo besar besaran ngga. Kita kasih peringatan aja. Katanya memang sudah ada perjanjian dulu. tapi saya juga ngga tahu. Coba tanya pa RT sini," ujar Putra, pemilik warung makan padang di Tanjung Barat Lama.

Baca: Jemaat GBKP Pasar Minggu Tetap Beribadah Meski Dilarang Pemkot Jaksel

KBR berusaha mengklarifikasi pro kontra warga terkait keberadaan GBKP  kepada Ketua RT 14 yang ditunjuk Putra.  Sayang, ketua RT tidak ditempat. Beberapa informasi yang didapatkan KBR, persoalan pembangunan gereja memang sudah lama terjadi. Warga disebut menolak keberadaan gereja karena tidak memenuhi izin. Sebelumnya izin yang diminta adalah untuk pembangunan ruko, tapi ternyata yang dibangun adalah rumah ibadah.

Untuk mengkonfirmasi kebenaran tersebut, KBR pun mendatangi ketua RW 04 yang baru saja dipilih. Ketua RW terdahulu dipecat dengan tudingan menerima suap dari pihak gereja.  Sayang, ketua RW 04, Imam enggan berkomentar.

"Waduh belum bisa ya mba. Nanti kalau ada keterangan lagi kita kabari. (Kita ingin konfirmasi pa soal ini, soal izinya, apakah memang ada warga selain sini yang menolak? coba nanti ya pa, besok. Saya kecapaian. Saya belum bisa istrirahat," ungkapnya.

Spanduk berisi tulisan 'Kami Warga Tanjung Barat RT 04 Menolak Adanya Kegiatan Peribadatan & Pembangunan Gereja di Wilayah Kami' masih dipasang di depan tembok gereja. Menurut Putra spanduk itu baru di pasang kemarin.

Saat ini kondisi di lapangan sepi. Tidak ada massa yang berkumpul, baik di sepanjang jalan Tanjung Barat maupun di Gereja tersebut. Termasuk tidak ada penjagaan dari aparat kepolisian.

Hingga berita ini diturunkan, KBR mencoba mendatangi Polsek Jagakarsa Jakarta Selatan. Namun, baik Kapolsek dan wakilnya tidak ada di tempat.

Sebelumnya puluhan massa berunjuk rasa menolak pembangunan Gereja Batak di Pasar Minggu Jaksel. Meski begitu, beberapa jemaat tetap datang ke gereja sejak sekitar pukul 08.00 WIB untuk mengikuti ibadah. Namun Kepala Forum Kerukunan Umat Beragma (FKUB) Jaksel Saiful Anam mengatakan belum ada rekomendasi dari FKPUB untuk mendirikan gereja di lokasi tersebut. 

Baca juga: Liput Aksi Penolakan Pembangunan Gereja di Pasar Minggu, Reporter KBR Dihalangi Massa Intoleran


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!