Nyamuk Aedes aegypti pembawa virus Zika. (Foto: Marcos Teixeira de Freitas/Creative Commons)

KBR - Pemerintah Thailand mempertimbangkan untuk menggelar pemeriksaan massal terhadap ibu hamil dari kemungkinan serangan virus Zika.

Hal itu terkait ditemukannya kasus mikrosefalus pertama di negara itu. Dari tiga bayi yang diperiksa, dua bayi mengalami mikrosefalus yang terkait virus Zika.

Mikrosefalus merupakan gangguan pertumbuhan otak yang menyebabkan ukuran kepala lebih kecil dibanding ukuran normal, dan diyakini karena dampak virus Zika.

Kementerian Kesehatan Thailand menyebut kasus mikrosefalus di negara itu merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara.

Begitu disampaikan Sekretaris Kementerian Kesehatan Thailand Sophon Mekthon, mengutip kantor berita Reuters.

Pemeriksaan virus Zika diperkirakan memakan biaya sekitar 58 dolar AS atau sekitar Rp750 ribu. Pemeriksaan pun tidak cukup sekali. Saat ini Kementerian Kesehatan Filipina mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan gratis terhadap semua ibu hamil di negara itu.

Saat ini pemerintah Thailand sudah memeriksa kesehatan sekitar seribu ibu hamil. Namun, jumlah itu hanya yang berada di area yang ditemukan penularan virus Zika.

Badan Kesehatan Dunia WHO mendesak pemerintah Thailand bekerja keras mengendalikan nyamuk pembawa virus Zika. Apalagi, negara ini juga sedang menghadapi ancaman wabah penyakit terkait nyamuk seperti chikungunya, Demam Berdarah dan malaria.

Hingga saat ini pemerintah Thailand sudah memastikan adanya 392 kasus virus Zika, termasuk 39 ibu hamil. Jumlah itu hampir sama dengan yang tercatat di Singapura, dimana terdapat 393 kasus virus Zika, dan 16 diantaranya ibu hamil. Beberapa pihak memperkirakan jumlah orang terinfeksi virus Zika di Thailand lebih besar lagi. Apalagi, pemeriksaan virus Zika di Thailad masih dilakukan terbatas.

Terkait penyebaran virus Zika di Asia Tenggara, Pusat Pengendalian Penyakit Menular Amerika Serikat (CDC) telah mengeluarkan anjuran menunda atau menghindari bepergian ke sejumlah negara meliputi Singapura, Brunei, Myanmar, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Maldives, Filipina, Thailand, Timor Leste dan Vietnam.

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin virus Zika. Dalam kondisi penderita virus Zika tidak mengalami gejala-gejala khusus, makin membuat ibu hamil sulit mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak.

Virus Zika menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu penularan juga diketahui melalui hubungan seksual.

Dua negara itu merupakan daerah dengan temuan infeksi virus Zika terbanyak di Asia Tenggara. Negara lain seperti Filipina, Malaysia, Indonesia dan Vietnam juga mencatat paling tidak ada satu kasus infeksi virus Zika.

Virus Zika tidak hanya berdampak pada janin atau bayi. Pada orang dewasa, virus Zika juga diduga berdampak menyebabkan gangguan syaraf yang dikenal sebagai Guillain-Barre. (Reuters/CNN/New Straits Times) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!