Api biru yang berasal dari kawah belerang di Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. (KBR/Friska Kalia).

KBR, Bondowoso– Iringan sejumlah kendaraan menembus pekatnya kabut dini hari menuju Kawasan Wisata Alam (KWA) Kawah Ijen yang berada di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kabut tebal disertai angin, membuat jarak pandang tak lebih dari 5 meter di sepanjang jalan menuju Kawah Ijen dari Kecamatan Sempol. Kebun Kopi samar–samar terlihat di kanan dan kiri jalan menuju posko terakhir pendakian Gunung Ijen.

Sekitar pukul 00.30 WIB, posko Paltuding telah ramai oleh puluhan kendaraan bermotor baik roda dua dan roda empat. Wisatawan mulai terlihat bersiap melakukan pendakian yang resmi dibuka oleh BKSDA pada pukul 01.00 dini hari.

Bukan tanpa alasan wisatawan ini rela menerjang dinginnya angin malam. Mereka menantikan saat–saat melihat keajaiban alam yakni api biru yang hanya ada dua di dunia ini.

Peter dan Smith terlihat memeriksa peralatan mereka tepat di depan loket karcis menuju puncak Ijen. Ini merupakan pendakian pertama mereka di Gunung Ijen setelah sebelumnya berkunjung ke Gunung Bromo di Probolinggo.

Peter terlihat serius memeriksa masker yang disiapkannya. Menurut Peter, dari berbagai artikel yang dibacanya sebelum datang ke Ijen, asap belerang merupakan salah satu yang perlu diantisipasi oleh pendaki. Sementara Smith lebih santai namun serius memeriksa perlengkapan yang dibawa dalam tasnya.

“Saya dengar asap di sini berbahaya kalau dihirup langsung. Makanya kami siapkan masker khusus untuk keamanan,” kata Peter dengan Bahasa Indonesia terbata.

Kedua pria asal Florida, Amerika Serikat ini mengaku penasaran dengan fenomena api biru yang ada di Kawah Ijen. Ditambah pemandangan elok serta aktifitas penambang belerang yang menantang bahaya, menjadi daya tarik mereka datang berkunjung.

Perjalanan yang akan ditempuh Peter dan Smith, juga akan dilalui ratusan pendaki yang setiap hari datang ke Kawah Ijen. Peter dan Smith hanya segelintir dari ribuan wisatawan yang datang berkunjung setiap tahun untuk menyaksikan fenomena yang hanya bisa terlihat pada malam hari tersebut.

Untuk sampai ke puncak Kawah Ijen, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 3 km dari pos Paltuding dengan berjalan kaki. Jalan yang mayoritas menanjak dan berliku serta gelap wajib dilalui pendaki sebelum menuju api biru.

Santi Nurbaya, wanita paruh baya berusia 52 tahun terlihat berjuang menaklukkan tanjakan demi tanjakan yang berada di depan mata. Santi mengaku dia datang bersama rombongan keluarganya dari Bandung, Jawa Barat. Sayangnya, saat pendakian ada beberapa yang memilih menyerah dan sebagian lainnya telah berada jauh di depan.

Berbekal sebuah lampu senter dan sebuah tongkat untuk mendaki, Santi bercerita sudah lama punya niat untuk melihat api biru. Usianya yang memasuki masa senja, tak menghalangi Santi untuk mendaki gunung setinggi 2.368 mpdl tersebut.

Sembari mendaki perlahan, Santi mengatakan sudah beberapa kali mendaki gunung api di Indonesia. Mulai Gunung Bromo, Gunung Gede dan Gunung Semeru.

“Kalau di Semeru tidak sampai puncak, waktu itu tidak memungkinkan. Kalau dipaksa akan membahayakan saya dan orang lain,” kenangnya.

Untuk sampai di puncak Gunung Ijen, wisatawan setidaknya memutuhkan waktu 3 jam perjalanan. Ditambah 1 jam perjalanan untuk turun menuju kawah belerang tempat si api biru bisa terlihat. Jika beruntung, api biru akan terlihat sangat jelas saat asap sulfur tak terlalu pekat.

Tebing curam, menyambut wisatawan saat tiba di puncak Ijen. Para penambang, seringkali berbaik hati membantu wisatawan untuk turun melihat langsung api biru. Penambang belerang mengaku turut bertanggung jawab atas keselamatan para wisawatan saat berada di Kawah Ijen.

Lelahnya pendakian, seketika terbayar saat kilauan api berwarna biru menyibak pekatnya asap di dapur belerang. Fenomena api biru seketika berpadu dengan kilatan ratusan kamera pengunjung yang ingin mengabadikan momen dan keindahan alam yang langka ini.

Fenomena api biru ini bisa disaksikan wisatawan hanya sampai pukul 4.30 atau menjelang matahari terbit. Namun tak perlu kecewa karena sesaat setelah matahari terbit, kawah asam dengan warna hijau tosca siap memanjakan mata siapapun yang datang menyambangi Ijen.

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!