BPPT Segera Gelar Studi Kelayakan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Menko Maritim Luhut mengatakan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya belum pasti diberikan kepada Jepang.

Selasa, 18 Okt 2016 15:17 WIB

Ilustrasi. Kereta cepat Shinkansen seri 500 buatan Jepang. (Foto: Wikimedia/Creative Commons)



KBR, Jakarta
- Pemerintah menargetkan Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan kereta cepat Jakarta-Surabaya bisa dimulai pada Desember 2016 mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan keberadaan kereta cepat Jakarta-Surabaya bisa mengurangi waktu tempuh, menjadi hanya sekitar lima jam.

Luhut mengatakan studi kelayakan akan dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan sumber dana dari APBN.

"Kereta api semi cepat ini (berkecepatan) antara 150 sampai 200 kilometer per jam antara Jakarta Surabaya. Studinya akan dibuat oleh BPPT. Sekarang kajian sudah kami bicarakan dan Pak Ridwan sedang memacu timnya itu, nanti juga melibatkan Kementerian-Kementerian terkait," kata Luhut kepada wartawan di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (18/10/2016).

Baca: Kereta Semi Cepat JKT-SBY, Menhub Targetkan Studi Kelayakan Rampung Akhir 2016

Ridwan yang dimaksud Luhut adalah Ridwan Djamaluddin, Deputi Kepala BPPT yang kini menjabat Deputi Menko Maritim bidang Koordinasi Infrastruktur.

Luhut mengatakan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya belum pasti diberikan kepada Jepang. Pemerintah masih mengkaji investasi mana yang termurah yang ditawarkan oleh pihak lain selain Jepang.

Jika nanti selesai dibangun, proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya tidak hanya akan digunakan sebagai angkutan penumpang saja, melainkan juga untuk melayani pengiriman barang industri.

"Kita jangan hanya dibilang China-China terus, kita juga ada alternatif lain, Jepang kok. Jadi supaya Indonesia itu bisa berimbang. Kita mencari yang termurah, tapi kalau Jepang tidak bisa kasih yang termurah ya kita lari ke yang lain, bisa saja itu. Ini sangat strategis, banyak nilai bisnisnya," kata Luhut.

Luhut juga mempertimbangkan pembangunan jalan bawah tanah (underpass) atau jalan layang (flyover) bagi sekitar 1000 perlintasan kereta api yang berada di sepanjang jalur kereta api Jakarta-Surabaya.

Nantinya akan ada kesempatan bagi swasta untuk ikut berkecimpung dalam pembangunan perlintasan kereta api tersebut.

"Ada hampir 1000 jalan pintas yang harus dibuat, itu berapa biayanya. Itu lagi dihitung dan study-nya juga sedang dibuat oleh BPPT," tambahnya.

Baca juga:
Kemenhub Pastikan KCIC Sudah Kantongi Semua Izin Kereta Cepat 

Editor: Agus Luqman  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

Aman Abdurrahman Diperiksa Densus 88 Terkait Bom Thamrin

  • CCTV Pengakuan Miryam, Pengacara: Dibawah Tekanan
  • Operasi Besar Novel Baswedan Berhasil
  • Laut Rusak, Warga Upacara di Tengah Laut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR