Ilustrasi: Longsor di Banjarnegara (foto: Antara)



KBR, Banjarnegara – Sejumlah 103 keluarga yang terdiri dari 421 jiwa warga Dusun Kaliwadas dan Sidakaya Desa Mlaya, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dipastikan akan direlokasi.  Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Catur Subandrio mengatakan saat ini   tengah mencari lokasi yang tepat untuk relokasi. Selanjutnya, lokasi tersebut akan disurvei oleh tim geologi untuk memastikan keamanan permukiman.
 
Catur menjelaskan, saat ini   baru mensurvei ke alternatif pertama, yang terletak di Desa Tlaga. Lokasi ini menurut Catur memungkinkan karena ada luasan lahan yang diperlukan dan merupakan hak milik perorangan.
 
Catur mengemukanan, BPBD Banjarnegara juga mendorong supaya masyarakat melakukan relokasi secara mandiri. BPBD akan membantu dalam proses pembangunan rumah, seperti material dan biaya pembuatan rumah.

"Relokasi tanah longsor, rencananya di Desa Tlaga. Kita masih survei di beberapa titik, karena masih musyawarah dengan masyarakat. Tentu yang terdekat. Kami arahkan, bisa apa tidak lahan mandiri, nanti pemerintah akan membantu pembangunan perumahannya. Ini kita masih negosisasi, belum ada keputusan. (Lahan Perhutani?) Tidak mungkin. Kami sudah koordinasi dengan Perhutani dan daerah tersebut zona merah semua." Ujar Kepala BPBD Banjarnegara, Catur Subandrio, Selasa (18/10).

Lebih lanjut Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara, Catur Subandrio mengungkapkan relokasi ke lahan milik Perhutani di Desa Mlaya tak bisa dilakukan. Sebab, wilayah terdekat termasuk zona merah longsor. Warga Kaliwadas dan Sidakaya menolak jika direlokasi ke wilayah aman yang masuk ke dalam hutan.
 
Alternatif lainnya, kata Catur, adalah tanah bengkok Desa Mlaya. Namun, lantaran milik negara, pihaknya juga harus mencarikan lokasi tukar guling lahan. Sebab, tanah yang dimiliki oleh nebgara tidak bisa begitu saja dialihfungsikan untuk hal lain.
 
Ratusan korban longsor Dusun Kaliwadas dan Sidakaya harus direlokasi karena ada retakan sepanjang 200 meter dengan lebar antara 40 centimeter hingga 80 centimeter di punggung bukit di bagian atas dusun. Retakan ini muncul setelah terjadi hujan deras pada akhir September 2016.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!