Pencarian korban bencana banjir Garut, Jawa Barat. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Belasan keluarga korban banjir bandang di Garut, Jawa Barat yang hingga kini masih hilang sudah mulai menerima, jika hingga batas waktu pencarian, korban belum ditemukan. Kata Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Garut, Setyo Hani Susanto. Pemerintah Daerah sudah bertemu  keluarga korban. Pertemuan juga melibatkan Majelis Ulama Indonesia MUI setempat.

Kata Setyo pertemuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga soal musibah banjir bandang Garut. Keluarga, kata dia sudah mulai paham dengan kondisi pencarian para korban.  Namun, Setyo mengaku belum mengetahui apakah akan ada penambahan masa tanggap darurat atau tidak

"Kita kan memberikan pemahaman yang komperhensif, soal upaya yang kita lakukan. Upaya maksimum yang sudah kita berikan, meskipun awalnya dari Basarnas 7 hari, SAR kita berikan 3 hari, dengan petimbangan segala hal, baik itu keluarga dan lainnya. Seandainya sampai batas maksimum waktu yang ada, kita sudah melakukan pendekatan itu, dan pihak kelaurga sudah menyadari bahwa ini musibah,"ujarnya kepada KBR, Senin (3/10/2016)

Untuk pencarian korban banjir,  hari ini  tim SAR gagal menemukan  korban hilang. Korban hilang masih tercatat sebanyak 19 orang.Setyo mengatakan personil sudah mencari dari DAS Cimanuk hingga ke Waduk Jatigede. Pencarian pun dihentikan sejak pukul 17.00 WIB. Dia mengaku banyaknya sampah di sungai menjadi kendala utama pencarian.

"Kita sudah lakukan upaya maksimal terkait pencarian. Baik menelusuri ulang ke DAS Cimanuk maupun mengoptimalkan di waduk Jatigede. Namun karena memang kendala sampah yang luar biasa, dan kemudian di waduk Jatigede kondisinya kan di bawahnya perkampungan. Jadi sampai hari ini masih nihil. Jadi 19 yang hilang masih belum ditemukan,"ujarnya 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!