Pesawat tempur Sukhoi SU-30MK2 TNI AU mendarat di Bandara Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau, usai melakukan gladi persiapan latihan perang, Senin (3/10). Sekitar 80 pesawat TNI AU disiapkan untuk untuk mengikuti latihan tempur Angkasa Yudha 2016 di Natuna.

KBR - Pasukan TNI Angkatan Udara menggelar latihan perang di sekitar Kepulauan Natuna, di Kepulauan Riau pada pekan ini, saat TNI merayakan ulang tahun ke-71.

Reuters memberitakan, ini menjadi latihan perang terbesar yang pernah digelar TNI Angkatan Udara.

Latihan perang yang diberi nama Angkasa Yudha 2016 itu akan digelar mulai Kamis (6/10/2016) selama dua pekan dan melibatkan sekitar 2,000 orang personel TNI Angkatan Udara.

Puluhan pesawat tempur TNI sudah mulai ramai mengangkasa di atas Bandar Udara Ranai Natuna.

Juru bicara TNI Angkatan Udara Jemi Trisonjaya mengatakan sekitar 80 pesawat akan dikerahkan dalam latihan militer itu, mulai dari pesawat angkut militer, helikopter multiguna, hingga pesawat tempur Sukhoi dan F-16.

Sebanyak tujuh pesawat tempur Sukhoi, 10 pesawat F-16 dan dua pesawat Hercules disiapkan untuk mengikuti latihan perang Angkasa Yudha.

TNI AU juga akan menggelar simulasi berupa penyerbuan dan menguasai kembali bandara yang sebelumnya dikuasai lawan.

Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan memantau langsung latihan perang tersebut pada 6 Oktober mendatang, sekaligus meresmikan Bandara Ranai.

Latihan perang itu digelar di tengah polemik memanas di kawasan Laut Cina Selatan antara Tiongkok dengan sekitar lima negara sekitar terkait sengketa klaim teritori. Negara-negara itu adalah Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietna.

Meskipun Indonesia tidak termasuk dalam pihak bersengketa (claimant state), namun Indonesia lama berselisih mengenai klaim Tiongkok terhadap peta 'Nine Dash Line' dimana garis demarkasi yang digunakan Tiongkok menjorok masuk ke perairan Indonesia di Natuna.

Perairan Natuna merupakan kawasan strategis Indonesia yang kaya akan gas dan kekayaan laut. Pada Juni lalu Presiden Joko Widodo telah melakukan kunjungan luar biasa ke kawasan itu yang menandai sikap Indonesia untuk menjaga wilayah perairan Kepulauan Natuna.

Pasukan patroli Indonesia berkali-kali menghadang kapal-kapal nelayan dari Tiongkok yang masuk ke perairan Natuna.

Sebelumnya, latihan perang TNI AU ini akan digelar di Pulau Belitung. Namun, latihan kemudian dipindahkan ke Kepulauan Natuna. Tidak ada penjelasan mengenai alasan pemindahan lokasi latihan perang itu.

Latihan perang Angkasa Yudha 2016 kemudian akan diikuti dengan kegiatan "Latihan Perang Armada Jaya" yang kedua, setelah Armada Jaya sebelumnya digelar September lalu. Latihan perang Armada Jaya juga akan berlokasi di Kepulauan Natuna.

Situs IHS Jane menyebutkan latihan perang Armada Jaya diulang karena pada latihan sebelumnya, ada kegagalan dalam peluncuran roket anti kapal C-705 buatan Tiongkok. Untuk latihan ulang itu, TNI Angkatan Laut akan meluncurkan roket antikapl terbaru C-802 juga buatan Tiongkok dari KRI Layang.

Sementara itu Singapura juga menggelar latihan perang gabungan dengan sejumlah negara di Laut Cina Selatan seperti Selandia Baru, Australia, Malaysia dan Inggris. Latihan gabungan yang diberi nama "Latihan Bersama Lima 2016" itu digelar mulai pekan ini hingga tiga pekan mendatang, melibatkan matra laut, darat dan udara.

International Business Times memberitakan latihan itu juga ditujukan untuk mengirim pesan kepada Tiongkok untuk membatalkan klaim teritori di Laut Cina Selatan.

Pada Juli lalu, pengadilan arbitrase Internasional di Den Haag menolak klaim Tiongkok terhadap 90 persen wilayah Laut Cina Selatan. Meski begitu, Tiongkok mengabaikan putusan itu. Tiongkok bahkan mengerahkan lebih banyak lagi sumber daya ke sejumlah pulau di kawasan Laut Cina Selatan.

Majalah Forbes memberitakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang masih bergantung banyak hal di sektor ekonomi pada Tiongkok. Dalam daftar Forbes, Indonesia berada di urutan 10, di bawah Thailand, Malaysia, Brazil, Peru, Jepang, Chile, Korea, Taiwan dan Australia.

Sekitar 10 persen komoditas ekspor Indonesia menuju ke Tiongkok dengan nilai setara dengan 2 persen GDP. (Reuters/International Bussines Insider/Huffington Post) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!