AS Tuduh Korea Utara Atas Serangan Siber

Park Jin Hyok diduga terlibat dalam melakukan serangan siber terhadap Sony Corp pada 2014.

Jumat, 07 Sep 2018 13:46 WIB

Foto: Mario Tama/Getty Images

KBR, Jakarta - Dartemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) telah menuntut Park Jin Hyok, seorang pria Korea Utara yang diduga terlibat dalam melakukan serangan siber terhadap Sony Corp pada 2014 dan Layanan Kesehatan Nasional Inggris.

Park Jin Hyok diyakini berada di Korea Utara dan bertindak atas nama pemerintah Korea Utara. Park Jin Hyok juga dikatakan terkait dengan Lazarus Group.

"Skala dan ruang lingkup kejahatan siber yang dituduhkan oleh pengaduan itu mengejutkan dan menyinggung semua orang yang menghormati aturan hukum dan norma-norma siber yang sudah diterima oleh negara-negara yang bertanggung jawab," kata Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional, John Demers dilansir dari bbc.com (7/9/2018).

Dilansir dari ABC, FBI telah lama menduga Korea Utara juga berada di belakang serangan cyber WannaCry tahun lalu, yang menggunakan malware untuk mengacak data di rumah sakit, pabrik, lembaga pemerintah, bank, dan bisnis lainnya di seluruh dunia.

Virus ini menginfeksi lebih dari 300.000 komputer di 150 negara yang membuat rumah sakit Inggris offline dan mengganggu jaringan IT FedEx.

Kasus di Layanan Kesehatan Nasional Inggris, menyebabkan para staf terpaksa menggunakan pena dan kertas untuk melakukan pencatatan medis setelah tidak bisa masuk ke dalam sistem komputer.

Serangan siber pada Sony menyebabkan pelepasan sejumlah informasi pribadi yang sensitif tentang karyawan Sony, termasuk nomor jaminan sosial, catatan keuangan, informasi gaji, serta email memalukan di kalangan pemangku jabatan tertinggi.

Peretasan itu termasuk empat film Sony yang belum dirilis, di antaranya Annie, film Brad Pitt, Fury,yang merugikan perusahaan puluhan juta dolar.

"Ini adalah salah satu investigasi siber yang paling rumit dan terlama yang dilakukan oleh departemen," kata asisten jaksa umum untuk keamanan nasional John Demers.

Para pejabat AS percaya bahwa peretasan Sony merupakan ganjaran untuk film The Interview, yang menayangkan adegan upaya pembunuhan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un oleh mata-mata AS yang menyamar menjadi jurnalis.

Sony membatalkan rilis teatrikal film tersebut, tetapi merilisnya secara online melalui YouTube dan situs lainnya.

Ini adalah pertama kalinya Departemen Kehakiman telah mengajukan tuntutan pidana terhadap seorang peretas yang dikatakan berasal dari Korea Utara.

Korea Utara selalu membantah terlibat dalam serangan hack yang dikaitkan dengan mereka. 

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".