Ratusan Desa Kekeringan, Pemprov Jawa Timur Bangun Sumur Air Dalam

"Tahun 2018 kami akan menyelesaikan pembangunan sumur air dalam dan pipa di 222 desa. Sisa 200 desa, yang 200 ini tidak bisa karena air dalamnya juga nggak ada."

Rabu, 13 Sep 2017 11:52 WIB

Gubernur Jawa Timur Soekarwo. (Foto: KBR/Muhammad Mukied)

KBR, Surabaya - Lebih dari 400 desa di 23 kabupaten kota di Jawa Timur mengalami kekeringan di musim kemarau tahun ini.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan dari jumlah itu hanya 222 desa yang bisa dibangun sumur dalam untuk mengatasi kekeringan. Sumur air dalam itu ditargetkan selesai dibangun pada tahun depan.

"Tahun 2018 kami akan menyelesaikan pembangunan sumur air dalam dan pipa di 222 desa. Sisa 200 desa, yang 200 ini tidak bisa karena air dalamnya juga gak ada," kata Gubernur Jatim Soekarwo di Surabaya, Selasa (12/9/2017).

Untuk 200-an desa yang tidak bisa dibangun sumur air dalam, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyarankan agar pemerintah daerah kabupaten kota menetapkan lebih dulu desa-desa itu sebagai desa darurat air sehingga pemerintah Provinsi bisa membantu melalui dana bencana. 

Saat ini pemerintah Provinsi memiliki dana sekitar Rp70 miliar untuk penanganan bencana, termasuk penyaluran air bersih.

Baca juga: 

Situbondo

Di Kabupaten Situbondo, Jawa Tmur, pemerintah daerah telah menetapkan status kekeringan di daerah itu menjadi tanggap darurat.

Status tanggap darurat kekeringan tersebut dibuat mengingat cukup banyak desa di Situbondo yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang saat ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kewaspadaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo Gatot Trikorawan mengatakan, status tanggap darurat kekeringan berlaku sejak 4 September hingga 15 November 2017 atau selama 73 hari. 

Status tanggap darururat kekeringan itu berlaku untuk 17 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Belasan desa itu mengalami krisis air bersih sejak dua bulan lalu. 

Gatot mengatakan belasan desa itu bersatus tanggap darurat karena setiap tahun menjadi langganan kekeringan. Diantaranya,  Desa Sopet Kecamatan Jangkar, Desa Sumberejo dan Sumberanyar Kecamatan Banyuputih dan Desa Silomukti Kecamatan Mlandingan.

"Itu dari usulan masing-masing desa, bahwa di wilayah mereka telah benar-benar terjadi kekeringan yang membutuhkan droping air bersih," kata Gatot Trikorawan, Senin (11/9/2017).

Gatot Trikorawan menambahkan, untuk menangani kekeringan di 17 desa itu, BPBD berkordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Situbondo, TNI, dan Dinas Sosial untuk penyaluran air bersih.

Setiap hari, BPBD menyalurkan 10 ribu liter air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan. Untuk meminimalkan daerah kekeringan di Kabupaten Situbondo pada tahun depan, BPBD bersama Pemerintah Situbondo telah mengajukan bantuan sumur bor dan tandon penampung air ke BNPB. Diharapkan sumur bor itu bisa mengatasi kebutuhan air bersih di daerah langganan kekeringan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1