Putusan Etik Penembakan Deiyai, Amnesty Internasional: Langgengkan Impunitas

"Harus dibawa ke pengadilan sipil. Hakim-hakim sipil itulah yang kemudian mengambil keputusan terhadap derajat kesalahan mereka."

Senin, 04 Sep 2017 10:01 WIB

Ilustrasi: Aksi solidaritas penembakan Deiyai. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid menggagas petisi #Justice4Deiyai. Kata Usman, petisi itu sebagai kecaman atas putusan sidang etik terhadap sembilan anggota polisi yang terlibat dalam kasus bentrokan di Deiyai, Papua. Bentrokan itu menewaskan seorang warga, Yulianus Pigai.

Kata Usman, penggunaan sidang etik untuk menghukum pelaku hanya menekankan kembali keengganan kepolisian untuk menerima   investigasi eksternal independen. Kata dia, keputusan kepolisian Papua tersebut harus dikaji lagi. Selain itu  memulai   investigasi eksternal independen untuk menuntaskan kasus penembakan tersebut.

"Persoalan hilangnya nyawa adalah persoalan pidana atau delik publik. Karena itu harus dibawa ke pengadilan sipil. Hakim-hakim sipil itulah yang kemudian mengambil keputusan terhadap derajat kesalahan mereka dan hukuman seperti apa yang dipandang setimpal atas perbuatan atas perbuatan mereka itu. (Harus dipecat dulu dari kepolisian?) Tidak harus dipecat. Pengadilan sipil tetap bisa mengadili polisi aktif. Itulah yang kami minta," kata Usman saat ditemui di kantornya.

Usman  menambahkan, putusan sidang etik itu juga menegaskan kultur impunitas terhadap para anggota kepolisian yang diduga melakukan kesalahan prosedur dalam menjalankan perintah yang menyebabkan jatuhnya korban sipil.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.