Polri Minta Novel Baswedan Tak Lagi Beropini di Media

"Kami nggak main-main, kami mau bersih, kami mau bagus, kami profesional. Jadi jangan dibuat opini sana sini. Jangan menganggap kita yang lambat atau menghambat," kata Rikwanto

Selasa, 05 Sep 2017 19:50 WIB

Foto: Antara

KBR, Jakarta - Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) meminta penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tidak lagi menyampaikan opini ke publik dengan pernyataan yang menyudutkan Polri.

Hal itu disampaikan Juru bicara Mabes Polri Rikwanto, terkait pernyataan-pernyataan Novel di media massa mengenai serangan teror terhadapnya pada 11 April 2017 lalu.

Dalam wawancara dengan KompasTV, Novel Baswedan meyakini ada anggota Polri yang terlibat dalam serangan teror penyiraman air keras tersebut.

Menanggapi hal itu, Rikwanto meminta Novel Baswedan terbuka kepada penyidik Mabes Polri terkait kasus penyiraman air keras itu. Daripada menyampaikan kepada publik, Rikwanto meminta Novel lebih baik menyampaikan informasi terkait kasusnya kepada penyidik Polri.

"Jangan dugaan-dugaan saja, jangan merusak nama pihak lain yang tidak ada faktanya. Tidak ada dasarnya diaju-ajukan. Kasihan masyarakat juga, jadi bingung. Kalau ada informasi bagus apalagi itu faktual, disampaikan saja, nanti segera kami tangkap. Kami nggak main-main, kami mau bersih, kami mau bagus, kami profesional. Jadi jangan dibuat opini sana sini. Jangan menganggap kita yang lambat atau menghambat," kata Rikwanto di Mabes Polri, Selasa (5/9/2017).

Mengenai keterlibatan jendral polisi yang sering disebut-sebut Novel, Rikwanto juga meminta Novel Baswedan menyampaikan informasi itu ke penyidik.

Saat penyidik Polri datang ke Singapura, Novel enggan mengungkapkan informasi itu. Novel hanya bersedia terbuka jika sudah terbentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

"Berarti Novel sendiri yang menyulitkan, kalau memang dia punya fakta itu. Kalau dia punya keyakinan pelakunya siapa dan dia tahu, sampaikanlah informasikan itu. Lebih cepat lebih baik," kata Rikwanto.

Rikwanto mengatakan sikap antipati Novel kepada kepolisian bisa menghambat pengungkapan kasus teror penyiraman air keras itu. Rikwanto memastikan polisi akan tetap profesional untuk mengungkap kasus ini.

"Kami profesional aja ya. Siapapun yang punya informasi bagus tentang siapa yang diduga pelaku, sampaikan. Jangan berasumsi-asumsi, jangan beropini, jangan membuat situasi dan kondisi menjadi tidak tentu. Masyarakat memonitor, masyarakat juga jadi galau. Jadi semua bersikaplah profesional biar kasus ini cepat terungkap," tukas Rikwanto.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing