Ini Pengakuan Slamet Wibowo, Terduga Pemfitnah Jokowi sebagai Pembunuh

Tersangka penyebar ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, Slamet Wibowo mengaku melakukan perbuatannya melontarkan fitnah dan ujaran kebencian lantaran sakit hati terhadap Jokowi.

Kamis, 21 Sep 2017 17:47 WIB

Polda Jawa Tengah menangkap Slamet Wibowo atas tuduhan penyebaran kebencian dan fitnah di Semarang, Kamis (21/9/2017). (Foto: KBR/Widia Primastika)

KBR, Semarang - Tersangka penyebar ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, Slamet Wibowo mengaku melakukan perbuatannya melontarkan fitnah dan ujaran kebencian lantaran sakit hati terhadap Jokowi.

Pria yang sehari-hari menganggur tersebut mengatakan sakit hati karena merasa dirugikan.

"Karena mau melakukan pembelaan nggak bisa, akhirnya saya cuma posting di Facebook. Tidak ada yang menyuruh. Saya hanya melakukan pembelaan dengan cara posting di Facebook supaya masyarakat tahu. Saya merasa dirugikan dan ditindas seperti itu," kata Slamet di markas Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah, Semarang, Kamis (21/9/2017).

Slamet menyebutkan motif penyebaran itu bukan atas perintah orang lain tapi karena dendam pribadi.

"Ya awalnya sih hanya sekedar dendam pribadi saja, karena waktu itu dia pernah melakukan pembunuhan terhadap anak istri saya. Saya kurang puas dengan Pak Jokowi itu yang melakukan pembunuhan tapi masih jadi presiden," kata Slamet.

Menurut Slamet, Presiden Jokowi membembunuh anak istrinya karena tidak suka terhadap dirinya.

"Dulu saya tidak suka, saya jujur pendukungnya SBY, Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat. Jadi mungkin Pak Jokowi kurang suka," kata Slamet.

Polisi menangkap Slamet Wibowo, setelah mendapat pelimpahan laporan dari Bareskrim Mabes Polri. Dengan menyamar untuk bertemu, polisi menangkap pemilik akun Facebook Rio Wibowo .

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau