Ahmad Tohari: Pemilik Situs Lelang Perawan Salah Kaprah Baca 'Ronggeng Dukuh Paruk'

Ahmad Tohari mengatakan Aris salah kaprah mengartikan ritual bukak klambu. Ritual bukak klambu dalam khazanah tradisi kesenian lama hanya untuk ronggeng.

Rabu, 27 Sep 2017 18:50 WIB

Budayawan Ahmad Tohari. (Foto: ANTARA/Aditia Maruli)

KBR, Banyumas – Pemilik situs nikahsirri.com sekaligus pendiri Partai Ponsel, Aris Wahyudi dalam situsnya menulis bahwa keperawanan seorang gadis merupakan aset ekonomi. Aris menganggap lelang keperawanan merupakan salah satu solusi mengentaskan kemiskinan.

Aris mengaku terinspirasi dari novel legendaris 'Ronggeng Dukuh Paruk' karya budayawan Banyumas, Ahmad Tohari. Aris menyebut lelang keperawanan adalah tradisi lama yang dapat dilestarikan dalam konteks kekinian dan bisa menjadi aset penting keluarga miskin, yaitu dibungkus dengan lelang dan nikah siri.

Menanggapi hal itu, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari mengatakan Aris salah kaprah mengartikan ritual bukak klambu (membuka kelambu tempat tidur). Tohari mengatakan ia menempatkan cerita ritual bukak klambu dalam khazanah tradisi kesenian lama, dan hanya diperuntukkan bagi seorang ronggeng. Sebab itu, bukak klambu  bukan soal lelang keperawanan seorang gadis.

Bahkan, kata Tohari, sang Ronggeng, Srintil dalam novelnya pun, tidak digambarkan semata-mata sebagai pengeruk harta. Sosok Srintil merupakan tokoh perempuan yang menyukai seni, hidup di alam remang, namun juga memiliki sisi humanis perempuan biasa. Srintil, kata Tohari, bercita-cita menjadi seorang istri sah. Dan ronggeng itu sangat mencintai Rasus, seorang tokoh utama lain dalam novel tersebut.

Ahmad Tohari menjelaskan tokoh Srintil dalam novel 'Ronggeng Dukuh Paruk' mengalami dinamika mental dan spiritual mulai awal kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng. Lalu bercita-cita menjadi perempuan sejati menikah dengan pria bertanggungjawab dan memiliki anak keturunan. Srintil, menurut Ahmad Tohari, mewakili sisi hitam dan putih kehidupan seorang seniman ronggeng.

Tohari membantah ada tradisi lelang keperawanan pada masyarakat Jawa masa lalu. Sebab, untuk masyarakat biasa, tradisi bukak klambu  itu tak ditemui.

"Saya menempatkannya di dalam khazanah tradisi lama, yang memang pernah ada dan sekarang sudah lama tidak ada. Dan tradisi itu semacam ritus, bukan untuk diperdagangkan. Kalau saya melihat, Aris itu hanya anak nakal. Bukan anak jahat, bukan. Orang mencari duit ya seperti itu. Dia hanya mengambil hal-hal yang bisa menguntungkan dirinya, tidak membaca novel saya secara utuh," begitu tanggapan Ahmad Tohari, Selasa (27/9/2017).

Baca juga:

Ahmad Tohari menuturkan dalam tradisi Jawa, secara terbatas memang ditemui ada tradisi gowok. Gowok merupakan sosok perempuan terdidik yang jasanya adalah melatih calon pengantin lelaki sebelum menikah dengan mempelai perempuan. Gowok bertugas mempersiapkan lelaki muda, baik secara fisik maupun mental.

Tetapi, menurut Ahmad Tohari, antara tradisi gowok dan ronggeng merupakan dua hal yang berbeda. Dua ritus itu sama-sama sudah hilang saat ini. Ritus gowok hilang ketika Indonesia pada masa kelompok Islam sudah cukup memiliki kekuatan menekan Pemerintah Hindia Belanda untuk menghentikan ritual gowok pada kalangan ningrat. Sementara, tradisi bukak klambu  hilang perlahan pasca-kemerdekaan.

Tohari menganggap Aris hanya mengartikan sepotong-potong dari keseluruhan novelnya. Karena itu berharap agar pembaca novelnya benar-benar membaca keseluruhan trilogi ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ yang setidaknya telah dialihbahasakan ke tiga bahasa asing ini. Dengan begitu, pembaca tak salah kaprah mengartikan bukak klambu  dalam khazanah budaya Jawa.

Lebih lanjut Ahmad Tohari mengatakan posisi masyarakat jawa juga termaktub dalam novel itu, diwakili tokoh utama lainnya, Rasus. Rasus merupakan anak asli Dukuh Paruk yang kemudian menjadi tentara. Rasus ingin menghilangkan kebiasaan buruk, kebodohan, ketertinggalan, dan hal tak bermanfaat lain yang terjadi di kampung halamannya.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau