Ketua Umum PBNU: Kiai Kampung Bisa Kok Tangkal Ajaran Radikalisme

Said Aqil mengatakan jangan sampai generasi penerus, remaja serta para pemuda disusupi ajaran terorisme dari tokoh agama yang pemahaman keagamannya ekstrem dan radikal.

Jumat, 02 Sep 2016 09:50 WIB

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj saat menemui Kapolri Tito Karnavian di gedung PBNU Jakarta, (18/8/2016). (Foto: ANTARA)

KBR, Kediri - Ketua Umum Pengurus Pusat Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, meminta para kepala daerah bersinergi dengan kiai kampung guna menangkal ajaran radikalisme dan terorisme.

Said Aqil mengatakan kiai kampung lebih dekat dengan masyarakat dan selalu mengajarkan sikap-sikap toleransi, perdamaian, kerukunan dan membangun intergitas bangsa.

Menurutnya, jangan sampai generasi penerus, remaja serta para pemuda disusupi ajaran terorisme dari tokoh agama yang pemahaman keagamannya ekstrem dan radikal.

"Itu memprihatinkan, memalukan dan memilukan. Terorisme dan radikalisme tidak cocok dengan watak bangsa Indonesia. Entah dari mana mereka mendapatkan paham itu, pasti dari luar. Bukan asli murni orisinil ajaran kiai-kai di Indonesia," kata Said Aqil Kamis (01/09/2016) malam, usai acara pelantikan pengurus PKB Kota Kediri.

Baca: 500 Ribu Orang Indonesia Pernah Terlibat Radikalisme

Said Aqil menambahkan, NU berkomitmen mendukung pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menangkal serta memberantas radikalisme dan terorisme.

Ini dibuktikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PBNU dan Kapolri dalam mencegah konflik sosial di masyarakat.

Organisasi NU, kata Said Aqil, memiliki sikap dan visi kebangsaan yang kuat sesuai cita-cita pendirinya KH Hasyim Ashari. Pendiri NU mempunyai jargon 'cinta tanah air adalah bagian dari iman'. Said Aqil menegaskan pemikiran radikal dan sifat mengkafirkan orang lain, bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia, bukan ajaran Islam.

Ketua Umum PBNU itu juga menyayangkan pemerintah Indonesia belum membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), padahal jelas HTI anti NKRI dan bertentangan dengan Pancasila karena ingin mendirikan negara khilafah.

Said Aqil menganggap organisasi Hizbut Tahrir hanya cocok diterapkan di negara-negara Timur Tengah.

Baca: Kepala BNPT Akan Libatkan Ormas untuk Lawan Radikalisme

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1