Waspada, Agustus Puncak Kemarau

Di Samudera Pasifik sedang terjadi dua gangguan anomali cuaca yaitu El Nino dan La Nina.

Senin, 06 Agus 2018 09:55 WIB

Warga di Kabupaten Bogor kesulitan air bersih akibat kekeringan (Foto: Antara)

KBR, Bandung- Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (PSTA LAPAN) menyebut   Agustus   ini merupakan puncak musim kemarau. Awal musim kemarau   terjadi pada Juni   lalu.

Menurut anggota tim variabilitas iklim 2018 PSTA LAPAN, Erma Yulihastin, musim kemarau terlihat dari aspek angin Monsun dari arah timur atau tenggara yang sudah seragam   terjadi di selatan Indonesia. Erma menjelaskan selain angin monsun, tingkat suhu dan aspek kekeringan di udara serta liputan awannya menguatkan prakiraan puncak musim kemarau yang terjadi saat ini.

"Biasanya puncak kemarau itu akan terjadi di bulan Agustus dan akan berakhir di bulan Oktober normalnya. Kemudian November sudah berganti arah angin sudah berubah dari angin timuran menjadi baratan hingga menjadikan tanda-tanda sinyal datangnya musim hujan. Nah jadi kita perlu memantau terus ini, seperti apa perubahan anginnya kalau dari secara umum seperti itu," kata Erma Yulihastin kepada KBR, Bandung, Minggu (5/8).

Kata Erma, sekarang ini di samudera pasifik sedang terjadi dua gangguan anomali cuaca yaitu El Nino dan La Nina. Erma menyebut kemungkinan terjadinya gangguan El Nino dan La Nina terus meningkat sebesar 65 persen. El Nino diperkirakan akan terjadi pada  September, Oktober dan November. Hal itu, tambah Erma, berdasarkan penelitian internasional yang diterbitkan oleh Universitas Columbia, Amerika Serikat.

Prakiraan tersebut juga diperkuat oleh otoritas pemantau cuaca Australia yang memperlihatkan 8 model pemantauan pemanasan global, 5 diantaranya menunjukkan akan terjadi anomali cuaca El Nino pada tiga bulan menuju penghujung   2018. Sisanya, 3 model otoritas pemantau cuaca Australia disebutkan normal.

"Lima model pemantau cuaca global dari Amerika dan Inggris memperkirakan adanya El Nino di September, Oktober dan November. Ini jadi masalah kalau El Nino ke wilayah kita," ujar Erma.

Adanya prakiraan El Nino tersebut berdampak panjangnya musim kemarau di Indonesia yang memicu musim kekeringan dan asap kebakaran hutan yang sulit dipadamkan. Pemerintah Indonesia diharapkan bisa mengantisipasi dampak kondisi cuaca global tersebut. Sebab, LAPAN memperkirakan pada November mendatang, musim kemarau akan terus berlanjut. Namun perkembangan cuaca tersebut akan dipantau kembali pada  September 2018 kemungkinan perubahan kondisi cuaca. 

Editor: Fajar Aryanto

 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Apakah anda lelah dengan rutinitas harian anda? Seperti kuliah atau bekerja,dan belum punya waktu atau budget anda terbatas untuk bersenang-senang? Dufan Jawabannya