Susahnya Menghapus Baby Smooker

Bocah bernama Ilham di Sukabumi yang baru berumur delapan tahun bahkan bisa menghabiskan dua bungkus rokok per hari.

Kamis, 23 Agus 2018 08:15 WIB

KBR, Jakarta - Baby smoker, atau anak-anak yang menjadi perokok di Indonesia terus bertambah. Ngeri sekali membayangkannya. Karena Sumber Daya Manusia Indonesia bisa hancur, dan tidak bisa menikmati Bonus Demografi lagi. Mengapa Indonesia susah menghapuskan baby smoker ini? Berikut ulasan Fadli Gaper.

**

Julukan bagi Indonesia bertambah lagi dengan predikat buruk, yaitu negara dengan baby smoker atau anak perokok nomor satu di dunia. Meskipun negara Cina adalah pengonsumsi rokok nomor satu sedunia, tapi di negeri itu nyaris tidak ditemukan baby smoker seperti di Indonesia.

Berdasarkan data dari Tobacco Control Support Center (TCSC) atau Pusat Pengendalian Tembakau Indonesia, jumlah perokok anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1995, ada lebih dari 9 persen anak usia 5 sampai 14 tahun sudah mencoba rokok. 

Lima belas tahun kemudian, angka perokok anak meningkat dua kali lipat, menjadi 19 persen pada 2010. 

Pusat Pengendalian Tembakau Indonesia dikelola oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Lembaga ini juga menemukan fakta, anak dan remaja di bawah usia 18 tahun paling banyak terpapar iklan rokok yang ditayangkan televisi, poster, iklan di jalan dan lain-lain. 

Ketua Pusat Pengendalian Tembakau IAKMI, Dokter Sumaryati Aryoso SKMmengatakan anak-anak perokok itu tersebar di 15 kabupaten kota di Indonesia. Sumaryati mendesak langkah-langkah segera untuk menekan jumlah perokok anak. Termasuk larangan total iklan rokok hingga penerapan kawasan tanpa rokok oleh pemerintah daerah.

SUMARJADI ARJOSO: “KTR, Kawasan Tanpa Rokok itu mustinya di KTR itu tidak ada rokok. Jangan, dulu kan dari Menteri PPA bilang Kawasan Bebas Asap Rokok, bukan asapnya saja, tapi KTR adalah tidak ada orang jual rokok, iklan rokok enggak boleh, orang merokok enggak boleh, semua terkait rokok enggak boleh."

Sumaryati Aryoso menambahkan Puskesmas di tingkat kelurahan atau kecamatan juga harus lebih giat menangani perokok anak. Ia menayangkan kebanyakan Puskesmas justru lebih fokus menangani pasien-pasien peserta BPJS.

SUMARJADI ARJOSO: “Di Puskesmas sendiri itu kan konsepnya wilayah. Jadi dia harus melihat kesehatan secara keseluruhan dari wilayah tersebut. Ada dana untuk ke wilayah untuk bikin penyuluhan-penyuluhan, tapi kenyataannya, maaf-maaf ya, sekarang di Puskesmas itu lebih banyak menangani BPJS, ke lapangannya kurang.”

Banyak yang cemas dengan tingginya perokok anak di Indonesia. Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati mengatakan dampak kecanduan rokok, bisa merembet kemana-mana.

RITA PRANAWATI: “Menurut saya penting untuk menerapkan pemahaman yang maksimal. Kepada masyarakat terkait adiksi dari bahaya rokok ini. Tidak hanya adiksi tetapi juga dampak sebenarnya. Dampaknya kan kita tahu, ada isu stunting yang tinggi, ada isu ISPA, TB, yang kita tidak selesai-selesai. Ini kan panjang sebenarnya.” 

Rita mengatakan anak-anak yang menjadi perokok sama artinya dengan hancurnya sumber daya manusia Indonesia.

Kualitas SDM kita kan ditentukan salah satunya oleh kesehatan SDM kita. Tapi kalau ini tidak terjadi maka sebenarnya kita sedang menabung masalah. Apalagi kita memiliki Bonus Demografi. Dengan demikian kalau SDM nya enggak kuat akan menjadi problem di masa yang akan datang.” 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia KPAI banyak menerima laporan keberadaan perokok anak, dari Sukabumi Jawa Barat hingga Pasuruan Jawa Timur. Ada bocah yang merokok sejak usia 2,5 tahun. Bahkan ada yang sudah terbiasa menjilati rokok di usia kurang dari dua tahun. 

Bocah bernama Ilham di Sukabumi yang baru berumur delapan tahun bahkan bisa menghabiskan dua bungkus rokok per hari. Ilham terpaksa menjalani terapi penyembuhan di Komnas Perlindungan Anak.  

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.