Peduli Bahaya Osteoporosis Sejak Dini

Jika kita bicara tentang osteoporosis, tentu banyak orang yang tidak asing dengan penyakit tersebut. Banyak orang yang beranggapan bahwa osteoporosis adalah penyakit bagi orang-orang lanjut usia saja sehingga membuat para anak-anak muda acap kali tidak me

Rabu, 29 Agus 2018 14:35 WIB

Ilustrasi. (Foto: Mike L Baird/Flickr/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Berbicara tentang osteoporosis, banyak orang beranggapan bahwa osteoporosis adalah gangguan kesehatan bagi orang-orang lanjut usia saja. Ini membuat kalangan anak muda kerap tidak menaruh perhatian terhadap bahaya dari penyakit ini.

Dr. Sandra Fikawati, MPH dari Fakultas Kesehatan Masyarakat menjelaskan osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya massa tulang atau kepadatan tulang secara keseluruhan akibat ketidakmampuan tubuh mengatur kandungan mineral pada tulang.

Kondisi itu disertai kerusakan pada tulang dan menyebabkan tulang bisa patah. Di Indonesia, kata Sandra Fikawati, terdapat fakta 1 dari 4 wanita Indonesia berusia di atas 50 sampai 80 tahun terkena osteoporosis.

"Osteoprosis disebabkan kurangnya asupan kalsium yang masuk ke dalam tubuh sejak masa anak-anak. Hal ini beresiko massa tulangnya tidak optimal," kata Sandra Fikawati, dalam program Ruang Publik KBR, Senin (27/8/2018).

Faktor berikutnya yang menyebabkan seseorang terkena osteoprosis, menurut Dr. Sandra Fikawati, adalah kurangnya aktifitas yang dilakukan.

"Kekurangan aktivitas fisik membuat tulang tidak mengalami tekanan sehingga berpotensi lebih besar terkena osteoporosis," kata Sandra.

Ia juga menambahkan konsumsi alkohol dan rokok juga berkontribusi dalam meningkatkan terkena penyakit tulang tersebut.

Hal lain yang menarik dari penjelasan Dr Sandra Fikawati adalah faktor ras juga berpengaruh dalam terkena osteoporosis. Ras Asia menjadi ras terbesar yang terkena penyakit yang berhubungan dengan tulang. Ia menjelaskan, orang-orang di wilayah Asia masih memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap penyakit ini dan khususnya dengan asupan kalsium yang masuk ke dalam tubuh mereka.

"Banyak masyarakat di Asia, kususnya di kalangan anak muda yang kurang peduli dengan konsumsi kalsium mereka, sedangkan asupan kalsium yang cukup penting untuk menjaga tulang-tulang kita tetap kuat dan optimal," jelas Dr. Sandra.

Penelitian di sekolah

Penjelasan dari Dr. Sandra ini diperkuat dengan data penelitian yang ia lakukan di sekolah-sekolah menengah atas di wilayah Bogor dan Bandung.

Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta jumlah asupan kalsium yang dikonsumsi anak muda Indonesia hanya sebesar 52 persen.

"Bayangkan jika rekomendasi asupan kalsium sehari itu mencapai 1000ml, mereka hanya mengkonsumi sebanyak 500ml. Dan itu jumlah yang sangat menghawatirkan,” kata Sandra.

Kekurangan asupan kalsium di kalangan anak muda itu disebabkan banyak dari mereka jarang atau bahkan tidak lagi mengonsumsi susu. Hal itu sangat disayangkan mengingat susu adalah salah satu sumber terbesar dari kalsium. Sandra menjelaskan ada istilah ironi kalsium dalam menggambarkan fenomena tersebut.

"Ironi kalsium adalah peristiwa yang terjadi di kalangan anak muda, di mana pada masa tersebut adalah puncak massa tulang mereka. Namun di saat bersamaan, kepedulian dan konsumsi terhadap asupan kalsium (konsumsi susu) yang menunjang kesehatan tulang mulai berkurang," kata Sandra.

Kondisi itu terjadi, kata Sandra, karena adanya anggapan di banyak kalangan anak muda yang merasa sudah tidak perlu untuk minum susu lagi ketika tumbuh dewasa.

Bagian tulang yang kerap terkena penyakit osteoporosis, adalah bagian tulang belakang, tulang panggul, serta tulang paha. Padahal bagian-bagian tulang tersebut adalah bagian penting yang berhubungan dengan bagaimana manusia beaktifitas fisik sehari-hari.

Sandra mengajak masyarakat agar mulai peduli terhadap pencegahan bahaya osteoporosis sedini mungkin, dibanding harus melawan rasa sakit dari penyakit tersebut.

Jika memang anak muda tidak bisa meminum susu, kata Sandra, kandungan kalsium juga bisa didapatkan dari makanan seperti telur, sayur-sayuran hijau seperti brokoli dan bayam serta ikan teri.

Sandra memberikan saran bagaimana mencegah bahaya dari penyakit osteoporosis. Selain konsumsi kalsium yang harus diperhatikan, anak muda juga harus terus menjaga pola hidup yang sehat. Di antaranya dengan melakukan olahraga yang mampu menyanggah tulang, seperti jogging sangat bagus dilakukan untuk mencegah bahaya osteoporosis.

"Kita harus menjaga asupan kalsium kita dari remaja, pada saat terjadinya puncak massa tulang. Kita juga harus beraktifitas fisik terutama di luar ruangan sehingga terkena sinar matahari, serta menjaga diri kita dari konsumsi rokok dan alkohol," tutup Sandra.

Editor: Agus Luqman
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".