LBH Surabaya Advokasi Perusakan Asrama Mahasiswa Papua

Sahura menjelaskan, pelaku pelemparan diduga petugas Satpol PP atau ormas pemuda. Dia membantah ada kontak fisik dalam kasus tersebut.

Rabu, 15 Agus 2018 22:53 WIB

Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya Jawa Timur usai diserbu massa Rabu (15/8/2018). (Foto: LBH Surabaya)

KBR, Surabaya - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya akan menyelidiki dugaan perusakan terhadap asrama mahasiswa Papua di jalan Kalasan Surabaya, Jawa Timur.

Insiden perusakan terjadi di asrama mahasiswa Papua, Selasa (15/8/2018).

"LBH akan merapatkan ini dan upaya hukum untuk melaporkan masalah ini terkait perusakan ke Polda Jawa Timur," kata Aktivis Bidang Divisi dan Riset LBH Surabaya, Sahura, ketika dikonfirmasi.

Sahura mengatakan, selain perusakan, LBH juga menyelidiki dugaan intimidasi. LBH mengumpulkan beberapa bukti dugaan intimidasi itu, untuk bahan proses hukum.

"Kita mempunyai beberapa foto, video dan tadi bukti pelemparan. Itu tidak kita utak-atik," kata Sahura.

Sahura menjelaskan, pelaku pelemparan diduga petugas Satpol PP atau ormas pemuda. Dia membantah ada kontak fisik dalam kasus tersebut.

"Ada sekitar satu atau dua orang. Ada orang berseragam mau masuk. Pas pintu dibuka, ada belasan orang masuk. Pas kaget mengambil kayu, para ormas lari, ada yang jatuh. Teman-teman mahasiswa melihat ada tangannya yang berdarah," kata Sahura.

Dipicu bendera

Peristiwa itu diduga dipicu aksi kelompok ormas tertentu yang meminta mahasiswa untuk memasang bendera Merah Putih di dalam asrama.  

Yoab Orlando, mahasiswa asal Sorong Papua mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Rabu, pukul 12.30 WIB.

Puluhan orang memaksa masuk asrama dan kemudian memasang bendera di dalam lingkungan asrama.

"Mereka masuk dengan mendorong pintu pagar secara frontal. Jumlahnya belasan orang," kata Yoab.

"Agak lama mereka di asrama, tambah lama tambah banyak massa yang masuk. Kami tanya mereka datang ada perlu apa? Sampai disini mereka ngotot memasang bendera di dalam," tambahnya.

Beberapa saat kemudian, pada mahasiswa pun memperbolehkan massa memasang bendera.

Meski bendera sudah terpasang, kata Yoab Orlando, massa yang bertambah banyak itu terus mendesak dan mendorong para mahasiswa ke dalam asrama, hingga hampir terjadi baku pukul keduanya.

"Setelah kita pasang bendera, mereka konfirmasi dan suara mereka kasar-kasar. Mereka dorong kami sampai di dalam asrama. Karena kami panik maka kami mengambil peralatan seadanya. Mereka diserang balik dan ada yang jatuh," tambah Yoab.

Menurut dia, para anggota ormas itu diduga juga melakukan perusakan dan pelemparan batu.

"Tadi ada batu yang dilempar kesini," jelasnya.

Yoab menyesalkan kejadian tersebut. Menurut dia, seharusnya himbauan pemasangan bendera itu tidak dilakukan dengan kekerasan. Apalagi, selama ini, hubungan warga dengan mahasiswa baik-baik saja.

"Tidak ada masalah. Relasi dengan warga aman-aman saja. Warga juga bisa bon kalau misalkan kekurangan uang, dan kiriman datang terlambat," tambah Yoab.

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.