Krisis Tenaga Kerja, Jerman Mencari Pekerja Asing

Menerut mereka masalah kekurangan tenaga kerja itu dapat menjalar kemana-mana, sehingga dapat menimbulkan kerusakan serius pada ekonomi Jerman.

Kamis, 30 Agus 2018 10:58 WIB

Jerman mencari tenaga kerja asing karena krisis tenaga kerja

KBR - Dalam sepuluh tahun terakhir presentase tingkat pengangguran di Jerman mengalami penurunan, tapi ini disusul dengan meningkatnya jumlah lowongan kerja di Jerman. Artinya, ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sementara banyak perusahaan yang mengaku kekurangan tenaga kerja.

Lonjakan lowongan kerja naik hingga 1,2 juta di seluruh Jerman. Ini disebut akan menyebabkan terjadinya angka pengangguran jangka panjang. German Economic Institute  percaya ada sekitar 440.000 posisi yang tidak dapat diisi oleh pekerja yang berbasis di Jerman, sehingga membutuhkan pekerja asing. Berdasarkan data dari Eurostat lowongan yang paling banyak dicari adalah di bidang administrasi. Disusul dengan industri konstruksi, kemudian akomodasi dan pangan.

Dilansir dari Financial Times, baru-baru ini dokumen pemerintahan Jerman menyatakan kalau pasokan pekerja Jerman dan Uni Eropa masih tidak cukup untuk memenuhi tuntutan dari perusahaan lokal. Dalam dokumen tersebut juga tertulis, kurangnya tenaga kerja berkualitas akan sangat berisiko bagi perekonomian negara. Seperti yang juga dikeluhkan para pebisnis dan ekonom di Jerman. Menerut mereka masalah kekurangan tenaga kerja itu dapat menjalar kemana-mana, sehingga dapat menimbulkan kerusakan serius pada ekonomi Jerman.

Untuk itu, pemerintah masih dalam proses penyusunan undang-undang imigrasi yang bertjuan untuk menarik tenaga kerja yang lebih terampil ke Jerman. Mereka berharap, penyusunan tersebut dapat resmi selesai sebelum akhir tahun.

Salah satu pengusaha yang juga terdampak adalah Herbert Striebich yang memiliki perusahaan pengiriman barang di dekat Rastatt, barat daya Jerman. Ia juga menghadapi masalah yang semakin umum, yaitu terlalu banyak pekerjaan, tapi tidak memiliki cukup pekerja. "Satu-satunya masalah yang kita miliki adalah personel," katanya pada Financial Times.

Pemerintahan Angela Merkel dari partai Demokrat Kristen sudah mendesak solusi, seperti mempekerjakan TKA dari negara-negara di luar Uni Eropa. Namun, solusi tersebut mengundang perdebatan politik.

Berlin sedang berusaha sekeras mungkin dalam pembuatan rencana untuk menarik tenaga kerja yang lebih berkualitas, tanpa menimbulkan perdebatan politik yang berkepanjagan mengenai kebijakan imigran karena ditakutkan akan kembali terjadi gejolak politik. Seperti lonjakan imigran di tahun 2015-2016. Ketika itu Jerman menerima hingga lebih dari satu juta imigran dari Negara-negara krisis seperti Suriah, Afganistan, dan Irak.

Organisasi bisnis dan federasi pengusaha Jerman, justru menyambut solusi yang melibatkan pekerja asing ini. Mereka berpendapat kalau sekarang ini akan lebih mudah untuk mempekerjakan lulusan universitas dari negara-negara non-UE dengan bayaran yang cukup, daripada harus mencari pekerja berkualitas dengan jumlah yang tinggi.

Beberapa peraturan mengenai tenaga kerja yang sebelumnya membebani para pengusaha Jerman, yang membatasi lowongan bagi pekerja asing juga akan dihapuskan. “Ini dulunya adalah masalah yang terbatas pada profesi berkualifikasi tinggi seperti ilmu komputer dan teknik. Sekarang ini adalah masalah yang jauh lebih luas, yang mempengaruhi banyak profesi non-akademik, ”kata Alexander Burstedde, seorang ekonom tenaga kerja di IW. Burstedde juga menambahkan kalau pensiun dini akan menjadi masalah, karena akan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Perusahaan kecil dan bisnis kerajinan tradisional termasuk yang terkena dampak buruk. Sama halnya rumah sakit dan industri perawatan. Situasi ini sangat serius terutama di bagian selatan Jerman, yang angka penganggurannya dapat turun hingga dua persen.

“Kami melakukan survei terhadap perusahaan anggota kami pada bulan Mei: 60 persen mengatakan mereka melihat kurangnya staf yang berkualitas sebagai risiko untuk bisnis mereka. Itu adalah masalah nomor satu,”kata Wolfgang Grenke, presiden kamar dagang di Karlsruhe, Jerman selatan.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.