Karena Kanker, Lestarilah Ratusan Tanaman Obat dan Dapat Kalpataru

Aktivitasnya menanam obat dipicu kanker yang dideritanya sejak 1991. Sebelumnya, selama sekitar dua tahun ia selalu mengkonsumsi obat kimia dari dokter, namun penyakitnya tak kunjung sembuh.

Jumat, 31 Agus 2018 23:16 WIB

Oday Kadariyah asal Kabupaten Bandung Jawa Barat meraih penghargaan Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan di acara Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018). (Foto: KBR/Eka Jully)

KBR, Bitung "Saya merasakan manfaat bagaimana berkhasiatnya tanaman obat. Walau ada saudara saya yang bilang 'imposibble kalau tanaman itu bisa menyembuhkan'. Tapi buktinya saya bisa sembuh. Bahkan tubuh saya sudah resisten atau menolak untuk mengkonsumsi obat obatan. Saya ingin katakan pada dunia bahwa ini bisa lho," kata Oday Kadariyah, perempuan 65 tahun asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penghargaan Kalpataru pada Oday Kadariyah, seorang penyintas kanker yang dianggap berjasa melestarikan lingkungan.

Oday mendapat penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan melalui kegiatannya melestarikan 900-an tanaman obat di Desa Cukanggenteng, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Kegiatan itu mulai dilakukan Oday sejak 2001.

Oday menanamnya di kebun dengan lahan seluas 21,35 hektare. Kebun itu bahkan sudah dibangun pemondokan, untuk tamu yang ingin melakukan agrowisata ilmiah. Tanaman obat yang dipilihnya adalah tanaman habitat yang bisa tumbuh di daerahnya. Ia mengembangkannya dengan unsur ilmu dan teknologi fitofarmaka dan etnobotani serta kearifan lokal.

Lahan tersebut, juga ditanami dengan tanaman pelindung lain, yang berfungsi sebagai area resapan air bagi masyaraat sekitarnya

Aktivitasnya menanam obat dipicu kanker yang dideritanya sejak 1991. Sebelumnya, selama sekitar dua tahun ia selalu mengkonsumsi obat kimia dari dokter, namun penyakitnya tak kunjung sembuh.

Ia pun beralih mengkonsumsi tanaman obat. Selama enam tahun lamanya ia rutin meminum air rebusan tanaman obat yang ia tanam. Hasilnya, Oday masih tegar. Padahal, dokter sebelumnya telah memvonis, bahwa ia tak memiliki harapan hidup lagi.

"Disaat obat dari dokter tak mampu lagi mengobati saya, maka kita harus  berupaya. Dosa kalau saya tak mencari jalan lain," kata Oday.

Meski banyak yang meragukan khasiat tanaman, bahkan saudaranya pun tak mempercayai kalau tanaman bisa sembuhkan penyakitt, Oday tak pantang menyerah.

Vonis dari dokter, justru membuat pikirannya terbuka.

 "Saya merasakan manfaat bagaimana berkhasiatnya tanaman obat. Walau ada saudara saya yang bilang 'imposibble kalau tanaman itu bisa menyembuhkan'. Tapi buktinya saya bisa sembuh. Bahkan tubuh saya sudah resisten atau menolak untuk mengkonsumsi obat obatan. Saya ingin katakan pada dunia bahwa ini bisa lho," tandas Oday.

Perempuan 65 tahun ini merasa punya kewajiban moral mengembangan tanaman obat. Ia tahu, Indonesia kaya dengan ragam tanaman berkhasiat yang luar biasa.

"Siapa lagi kalau saya tidak memulainya? Karena tanaman obat sangat amat berguna untuk kesehatan manusia. Saya ingin mengajak dan mendidik masyarakat untuk berterima kasih kepada Tuhan. Saya ingin menjadi khilafah, karena ingin memberikan sesuatu kebaikan.  Saya ingin  menyelamatkan lingkungan dan itu  otomatis menyelamatkan manusia. Yang penting ada kemauan," ungkapnya.

Kini, ia punya klinik yang dibangun untuk masyarakat sekitar.  Di lingkungan tempat tinggalnya, ia dikenal sebagai ahli herbalis.

Sertifkat "herbalis yang sudah diuji" pun sudah ia kantongi. Sehari-hari ia membantu mengobati pasien dengan penyakit kronis seperti kaker, vertigo, pencernaan, dan lain-lain. Ia juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang lingkungan dan tanaman obat.


Oday Kadariah saat menerima Kalpataru dari Menteri LHK, Siti Nurbaya didampingi  Menko Perekomana Darmin Nasution, di acara Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sulawesi Utara,  Kamis (29/8/2018)


Panen hujan

Selain Oday, KLHK juga memberikan penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan lainnya kepada Juwari. Pria 56 tahun ini memanen air hujan dengan embung dan mengatasi krisis air untuk pertanian di Bantul, Yogyakarta.

Ada pula Junaidi (Kampar, Riau), Widodo (Bantul, Yogyakarta) dan Wutmaili Ramuty (Ambon) untuk penerima Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan.

Untuk kategori Penyelamat Lingkungan, Kalpataru diberikan kepada Yayasan Lembu Putih Tara (Bali), Kelompok Tani Ngudi Rezeki (Gunungkidul, Yogyakarta) dan Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya (HAMPAR) dari Tulungagung, Jawa Timur.

Sedangkan untuk Kalpataru Pembina Lingkungan diraih Bambang Irianto (Malang, Jawa Timur) dan Mochamad Indrawan (Bogor, Jawa Barat) 

Penyerahan Kalpataru diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution, pada peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 di Taman Wisata Alam Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018).

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.