Kampung Adat Megalitikum Gurusina Terbakar, Warga akan Saling Menguatkan

“Warga di sana itu warga pemaaf. Jadi ketika diketahui salah satu rumah yang jadi sumber api, di sana mereka tidak menuntut atau tuntutan semacamnya.”

Selasa, 14 Agus 2018 16:24 WIB

Kampung Gurusina yang terbakar (Foto: dok. Nury)

KBR, Jakarta- Kampung adat Megalitikum Gurusina yang terletak di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, dilahap si jago merah pada Senin (13/8) pukul 16.00 WIT. Kebakaran ini diduga karena arus pendek listrik di salah satu rumah.

Sedikitnya 27 dari 33 rumah adat yang terbuat dari kayu dan tua, habis terbakar. Lokasi rumah yang berdekatan menjadikan api mudah menjalar dan sulit dipadamkan. Nury Sybli, seorang pegiat literasi yang tahu seluk beluk Kampung Gurusina, menceritakan bagaimana sulitnya akses masuk ke dalam kampung.

“Posisi juga di kaki gunung, warga minta bantuan juga butuh waktu karena jarak dari kota sekitar 21 kilometer dengan ditempuh waktu satu jam lebih, dengan kondisi jalanan kecil dan berkelok-kelok,” kata Nury kepada KBR Selasa (14/8).

Diceritakan Nury, warga Kampung Adat Gurusina memiliki kebudayaan tradisional dengan menetap secara turun temurun dari sesepuh sampai ke anak-anaknya. Setiap rumah adat  yang ada di dalam kampung mempunyai tanduk kerbau sebagai identitas kejayaan dari keluarga si pemilik rumah tersebut. Semakin banyak tanduk kerbau yang menghiasi bagian depan rumah, maka dipastikan status si pemiik rumah juga semakin tinggi.

Dikenal sebagai kampung Megalitikum karena persis di tengah kampung terdapat batu Bhaga dan Ngadhu. Batu-batu ini merupakan peninggalan zaman Megalitikum. Posisi rumah melingkar mengelilingi batu-batu pusaka tersebut.

“Benda pusaka atau material upacara adat namanya Bhaga dan Ngadhu, masing-masing ada 3 ada pundukan kecil gitu, nah itu semua habis (terbakar-red),” ujar Nury.

Uniknya, tak hanya peninggalan batu pusaka dan bentuk bangunan rumahnya saja yang tradisional. Tetapi masyarakat setempat masih memegang tradisi tiap kali menghadapi masalah. Termasuk salah satunya adalah kebakaran ini.

“Warga di sana itu warga pemaaf. Jadi ketika diketahui salah satu rumah yang jadi sumber api, di sana mereka tidak menuntut atau tuntutan semacamnya,” tuturnya.

Pascakebakaran, Nury yakin mereka akan saling menguatkan satu sama lain dan bergotong royong membangun kembali kampungnya.


Editor: Fajar Aryanto

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.