Jalur Pendakian Rusak, Rinjani Ditutup Hingga Waktu yang Tak Ditentukan

“Efek gempa ini menimbulkan kerusakan yang cukup parah di jalur-jalur pendakian."

Rabu, 01 Agus 2018 11:22 WIB

Pintu pendakian Rinjani yang ikut roboh dihantam gempa. (Foto: KBR/Zainudin Syafari)

KBR, Mataram- Jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sejak Minggu (29/7), pasca gempa berkekuatan 6,4 SR. Pendakian ke Rinjani sudah tak diperbolehkan lantaran beberapa jalur mengalami kerusakan. Penutupan ini berlaku sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Karena saat gempa terjadi, struktur tanah berubah. Kondisi tersebut mengancam keselamatan jiwa para pendaki.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Sudiyono, Rabu (1/8) mengatakan, saat ini seluruh pendaki serta tim evakuasi telah berhasil keluar dari kawasan TNGR. Kawasan TNGR sendiri sudah steril sejak Selasa (31/7) pukul 19.30 WITA, tepat setelah proses evakuasi berakhir.

“Efek gempa ini menimbulkan kerusakan yang cukup parah di jalur-jalur pendakian, hampir semuanya terpengaruh. Dan untuk membuka jalur ini, tentunya tidak mudah. Di dalam kawasan, kita tidak bisa bawa alat berat, pasti membutuhkan waktu lama. Yang kedua, ketika ada gempa besar, maka struktur tanah bisa berubah. Sehingga ini bisa menjadi daerah yang rawan terhadap bencana,” kata Sudiyono, pada Rabu (1/8).

Pendaki yang sudah berhasil dievakuasi sebanyak 1.226 orang, terdiri dari WNA 696 orang dan WNI 530 orang.

Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), akan segera meneliti  dan mengkaji dengan melibatkan para ahli. Penelitian itu untuk mengetahui lebih detail soal keamanan jalur pendakian, pendakian jalur alternatif evakuasi, prediksi pola kegempaan dan letusan serta dampak pendakian.

Sudiyono mengatakan, selama penutupan Rinjani ini, TNGR ingin memulihkan psikologi guide porter yang setiap hari bekerja di Gunung Rinjani guna melayani para pendaki. Pemulihan sangat penting untuk menyembuhkan trauma.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.