Jadi Cawapres Jokowi, Ini Janji Ma'ruf Amin

Menguatkan yang lemah melalui redistribusi aset dan kemitraan.

Jumat, 10 Agus 2018 09:15 WIB

Pasangan Capres dan Cawapres, Jokowi dan Ma'ruf Amin mendaftar ke KPU (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Ma'ruf Amin tak menyangka dirinya dipilih sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) oleh Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.

“Saya bilang kalau diperlukan negara, saya itu siap. Saya nggak ngomong apa-apa ke Presiden, cuma dekat saja sama Presiden. Sering diskusi soal keutuhan bangsa, banyak akurnya. Presiden itu banyak cocoknya sama saya,” tutur Ma’ruf di kantor PBNU pada Kamis (9/8).

Gayung pun bersambut, Ma’ruf Amin bersedia dengan sekuat tenaga dan pikiran membantu Presiden untuk mewujudkan Indonesia yang aman damai dan sejahtera.

‘’Tentu Jokowi kan punya nawacita, saya nanti membantu dalam beberapa aspek, pertama keutuhan bangsa. Kalau bangsa tidak utuh, tidak bisa melakukan pembangunan,” ujar Ma'ruf.

Jika nanti terpilih oleh rakyat, Rais Aam Pengurur Besar Nadhalatul Ulama (NU) ini memiliki rencana pemikiran dari aspek ekonomi keumatan, sebuah arus baru ekonomi Indonesia dari segi pemberdayaan ekonomi umat.

“Kenapa harus baru? karena arus lama membentuk konglomerat. Arus baru bukan untuk melemahkan yang kuat, tapi bagaimana menguatkan yang lemah. Itu mengapa lahir redistribusi aset dan kemitraan,” papar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Memperbaiki Citra Jokowi

Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi memang mengejutkan banyak pihak. Apalagi, nama Ma'ruf baru menggema di menit-menit terakhir pendeklarasian. Terlepas dadakan atau tidaknya pemilihan Ma'ruf, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego menilai Jokowi dan koalisinya punya tujuan tertentu.

Menurut Indria Samego, tujuan Jokowi dan koalisinya adalah mengamankan suara pada Pilpres 2019 mendatang.

"Membuat keseimbangan baru karena Jokowi selama ini dikesankan sebagai tidak pro-Islam, sekuler. Bahkan dituduh PKI pula. (Ma'ruf Amin) bisa mengimbangi, Jokowi pilih ketua MUI, orang nomor satu," kata Indria saat dihubungi KBR, Kamis (9/8).

Indria menilai, Ma'ruf Amin diyakini mampu menggaet massa lebih besar ketimbang Mahfud MD. Apalagi, sosok Mahfud MD diduga tak sepenuhnya didukung NU. Belakangan, Mahfud justru membuat NU terpecah suaranya. Ada yang mendukung, Yenny Wahid salah satunya. Ada pula yang justru tidak mengakui Mahfud sebagai kader NU. Ini dikatakan langsung oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil.

Sosok Ma'ruf Amin yang dianggap menenangkan (Foto: Antara)

(Sosok Ma'ruf Amin yang dianggap menenangkan. Foto: Antara)

Ketenangan Sosok Ma'ruf

Sosok Ma'ruf  memang tak bisa dilepaskan dari NU. Jika dilihat dari garis keturunan keluarganya, Ma'ruf termasuk salah satu keturunan langsung ulama besar. Ia adalah cicit dari Syekh Nawawi Banten, seorang ulama asli Indonesia yang pernah menjadi imam Masjidil Haram. Tak pelak, Ma'ruf begitu disegani sebagai ulama, baik di dalam lingkungan NU maupun masyarakat umum.

Janji Ma'ruf untuk memberdayakan ekonomi umat, sebenarnya sesuai dengan latar belakangnya. Nama Ma'ruf Amin pernah tercatat sebagai komisaris Bank BNI Syariah dan Bank Mega Syariah. Ia juga menjadi Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat.

Pria kelahiran 11 Maret 1943 ini juga malang melintang di dunia politik. Ma'ruf pernah menjadi anggota MPR-RI dari PKB, Ketua Komisi VI DPR-RI,anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

Mundur

Tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus menyatakan organisasi Nahdlatul Ulama tidak terjun ke politik praktis.  Gus Mus  mengingatkan adanya khitah Nahdlatul Ulama, ketika seorang Rais Aam PBNU menjadi calon Wakil Presiden, maka harus mengundurkan diri.

“NU tidak ada kaitannya dengan partai politik, nggak ada kaitannya dengan politik praktis. Kalau anda jadi pengurus NU secara struktural, ya jangan bawa NU, sampeyan pribadi saja. Kalau Cawapres ya harus mundur. Kalau tidak, Rais Aam di bawah Presiden nanti. Biar dibahas oleh PBNU,“ terangnya.

Mengenai dipilihnya Kiai Ma’ruf Amin, Gus Mus enggan menanggapi. Kata dia, itu kewenangan Joko Widodo bersama partai koalisinya.

“Itu kan wewenangnya pak Jokowi untuk memilih. Lha saya urusannya apa, dijak rembugan yo ora, ditakoni yo ora,“ pungkasnya. 


Editor: Fajar Aryanto

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Apakah anda lelah dengan rutinitas harian anda? Seperti kuliah atau bekerja,dan belum punya waktu atau budget anda terbatas untuk bersenang-senang? Dufan Jawabannya