Google Dituntut karena Diam-Diam Tetap Lacak Lokasi Pengguna Ponsel

Jutaan pengguna smartphone Android dan iPhone diduga tetap dilacak meskipun sudah menonaktifkan fitur Location History.

Rabu, 22 Agus 2018 17:51 WIB

Google location history (ilustrasi)

KBR, Jakarta - Google digugat karena secara ilegal melacak jutaan pengguna smartphone meskipun mereka sudah menonaktifkan pengaturan Rekaman Lokasi atau Location History mereka.

Gugatan itu diajukan ke pengadilan federal pada Jumat (17/8/2018) pekan lalu di San Fransisco, Amerika Serikat. Dilansir dari courthousenews.com, penggugatnya adalah seorang pengacara bernama Napoleon Patacsil. Menurut dia, Google telah melanggar Undang-undang Privasi Invasi California dan hak konstitusional warga negara atas privasi.

Dalam gugatannya, Patacsil mengatakan kalau aplikasi Google di iPhone-nya terus menerus melacak lokasinya meski ia sudah mematikan opsi penyimpanan di Location History.

Patacsil lantas meminta status class action untuk jutaan orang potensial di Amerika Serikat yang menggunakan Android dan iPhone yang sudah menonaktifkan Location History namun tetap direkam oleh Google.

Gugatan ini muncul setelah Associated Press menerbitkan laporan investigasi mereka Senin (13/8/2018) lalu. Di situ diuraikan kalau saat pelacakan lokasi dimatikan, ternyata sejumlah aplikasi Google tetap menarik data. Sebelumnya, Google menjelaskan kalau setiap orang dapat mengaktifkan, menonaktifkan serta menghapus rekaman data kapan saja dan data tidak akan disimpan. 

Setelah laporan Associated Press ini keluar, Google mengklarifikasi kalau Google tetap melacak lokasi pengguna meski sudah mematikan Location History. Di halaman bantuan Google, sebelumnya disebut kalau dengan menonaktifkan Location History, maka data tidak akan disimpan. Penelusuran Indian Express  menunjukkan kalau sekarang halaman itu sudah diperbarui dan kalimat tersebut sudah dihapus. 

Editor: Citra Dyah Prastuti

 
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.