'Menghadap Laut', Bersih-Bersih Plastik ala Susi Pudjiastuti dan Kaka Slank

Indonesia menempati peringkat kedua terbesar sebagai penyumbang sampah plastik di lautan.

Selasa, 14 Agus 2018 09:21 WIB

Sampah plastik mengotori pesisir Jakarta (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Pembina Pandu Laut Nusantara, Susi Pudjiastuti mengajak masyarakat untuk ramai-ramai membersihkan perairan nusantara serempak di 73 titik dari Sabang sampai Merauke. Gerakan nasional bertajuk 'Menghadap Laut' ini akan digelar pada Minggu (19/8) mendatang, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke-73.

'Menghadap Laut' sendiri merupakan inisiatif dari pemerintah agar perairan Indonesia tak dicemari oleh sampah, terutama sampah plastik. Saat ini  Indonesia menempati peringkat kedua terbesar sebagai penyumbang sampah plastik di lautan ( Jenna Jambeck, 2015). Sekitar 150 juta ton plastik yang menumpuk di lautan mengancam masa depan laut Indonesia.

Indonesia menghasilkan 60 juta ton sampah per tahun. Sekitar 3,2 juta ton di antaranya adalah sampah plastik sekali pakai. Penggunaan plastik hanya sesaat. Namun, sampah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk terurai.

Produksi kantong plastik di Indonesia tercatat 366 ribu ton per tahun, serta plastik yang tidak terkelola dengan baik dan mencemari lingkungan sebanyak 85 ribu ton. Angka tersebut hanya untuk kantong plastik, belum ditambah plastik sekali pakai yang digunakan sehari-hari. Setidaknya ada 9,85 miliar lembar kantong plastik yang disebar oleh peritel tiap tahun, dan 300 juta di antaranya disebar oleh peritel yang berada di Jakarta.

Plastik sekali pakai adalah benda-benda yang sifatnya sekali pakai langsung buang dan tidak esensial, seperti sedotan, styrofoam dan minuman air kemasan. Nilai jual plastik sekali pakai tidaklah tinggi, sehingga akan dibuang begitu saja tanpa adanya daur ulang.

Menurut data dari World Economic Forum, dari total sampah plastik di dunia, hanya 2% yang dapat didaur ulang. Selebihnya, sebesar 32% mengotori lingkungan, dan 40% menumpuk di tempat pembuangan sampah akhir, TPA. Diperkirakan 2050 mendatang akan lebih banyak jumlah sampah plastik daripada jumlah ikan di lautan.

Senada dengan penelitian dari Universitas Hassanudin Makassar, sepertiga ikan di perairan timur Indonesia mengandung mikroplastik.  Data lain dari Orb media menyebutkan, hampir seluruh air keran di dunia ini sudah tercemari mikroplastik. Mikroplastik berasal dari kantong plastik yang pecah. Jumlah pecahannya dapat mencapai 84 ribu pecahan mikroplastik yang menyebar di lautan.


Susi Pudjiastuti menggaet Kaka Slank sebagai Pandu Laut Nusantara (Foto: Antara)

Diet Plastik

Kondisi inilah yang melatarbelakangi Susi Pudjiastuti mencanangkan gerakan 'Menghadap Laut' dengan menggandeng salah satu anggota band Slank, Kaka.

"Kaka akan bersihkan pantai di Makasar, saya pada tanggal 19 jam 3 sore akan ada di Bitung (Manado-red), karena sekalian mengomandoi penenggelaman kapal sejumlah 87 yang akan ditenggelamkan di beberapa wilayah di Indonesia," ujar Susi Pudjiastuti.

Harapan Susi, 'Menghadap Laut' tidak hanya dilaksanakan serempak pukul 15.00 WIB pada Minggu (19/8) mendatang di 73 titik utama yang sudah terdaftar, tetapi juga dilakukan di laut, sungai, teluk, ataupun danau dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai pentolan Slank dan memang punya kepedulian terhadap alam, Kaka pun dengan senang hati bergabung dalam gerakan nasional ini. Sebab, ia percaya semangat untuk mencintai alam tak bisa begitu saja ditularkan ke generasi muda tanpa memberikan contoh.

"Lebih percaya efek ngasih contoh daripada menggurui. Ya lu ngomong doang tapi nggak ngelakuin juga gitu kan. Kayak misal aku bawa tumblr, minum nggak pake sedotan bener-bener aku kasih liat. Sebetulnya kegiatanku ini sangat berpengaruh sama perubahan di alam," ucap Kaka, di Gedung Mina Bahari, Jakarta, Senin (13/8).

Gaya hidup diet plastik diterapkan Kaka sejak setahun lalu. Di setiap konsernya pun ia mengingatkan Slankers, sebutan fans setia Slank, untuk mengikuti gaya hidup diet plastik seperti dirinya. Kesadaran tentang pentingnya mencegah kerusakan alam yang lebih parah dirasakan Kaka sejak 2012. Saat itu, ia mulai resah, setelah melihat sendiri sampah-sampah berserakan di laut Indonesia.

Editor: Fajar Aryanto

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.