Tarif Cukai Tembakau Naik Mulai September

"Kita sudah sepakat pada akhirnya konsumsi rokok harus diturunkan secara gradual. Tarif ini jadi instrumen kita kendalikan volume produksi rokok."

Senin, 21 Agus 2017 16:54 WIB

Ilustrasi cukai tembakau. (Foto: beacukai.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Kementerian Keuangan berencana mengeluarkan aturan tarif cukai tembakau baru pada September tahun ini.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi berjanji akan berlaku adil dalam menaikkan tarif cukai hasil tembakau.

Heru Pambudi mengatakan akan memberlakukan tarif yang berbeda antara golongan produk sigaret putih mesin, sigaret kretek tangan, serta sigaret kretek mesin.

"Dengan mempertimbangkan faktor tenaga kerja, pemerintah akan memberi ruang dalam bentuk tarif lebih rendah kepada sigaret kretek tangan. Sebaliknya, tarif yang lebih tinggi untuk sigaret kretek mesin," kata Heru di Kementerian Keuangan, Senin (21/8/2017).

Aturan tarif cukai baru akan dikeluarkan bulan September tahun ini. Dengan begitu, Heru berharap para pelaku usaha di bidang tembakau memiliki waktu lebih panjang untuk menyesuaikan diri.

Menurut Heru, kenaikan tarif cukai untuk hasil tembakau tidak bisa dielakkan. Sebab, pemerintah sudah sepakat secara bertahap akan mengendalikan produksi rokok dengan memperhatikan tingkat inflasi dan keberlangsungan industri. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menaikkan harga rokok secara bertahap.

Dia mengakui kebijakan menaikkan tarif ini dipengaruhi permintaan kelompok pro kesehatan. Mereka meminta pemerintah mengendalikan konsumsi rokok.

"Kita sudah sepakat pada akhirnya konsumsi rokok harus diturunkan secara gradual. Tarif ini jadi instrumen kita kendalikan volume produksi rokok."

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemenang Tender Beberkan Nama Anggota DPR Penerima Suap Proyek Bakamla

  • 100 Hari Anies-Sandi, FPDIP Anggap Kebijakan Penataan Tanah Abang Paling Bermasalah
  • AS Tuding Rusia Terlibat Serangan Kimia Suriah
  • Barcelona Siapkan Nomor 7 untuk Griezmann, Bukan Coutinho

Susu menjadi asupan makanan penting pertama yang dikonsumsi manusia dan diperlukan manusia sepanjang hidup, bukan hanya ketika bayi dan balita saja.