Sebelum Operasi Mata 17 Agustus, Polri Bakal Periksa Novel Baswedan

Pemeriksaan terhadap Novel didahulukan, karena setelah operasi nanti Novel harus beristirahat total. Novel dilarang berinteraksi dengan banyak orang agar penyembuhan mata pascaoperasi bisa maksimal.

Jumat, 11 Agus 2017 18:51 WIB

Ilustrasi. Aksi dukungan terhadap Novel Baswedan. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Tim dokter di Singapura berencana mengoperasi mata kiri penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan pada Kamis, 17 Agustus mendatang.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan tim dokter yang menangani Novel Baswedan di Singapura memutuskan untuk mengambil tindakan operasi besar karena menganggap sudah tidak ada lagi perkembangan signifikan pada jaringan mata Novel yang kini berwarna putih.

Febri mengatakan tim dokter akan melakukan operasi 'gusi ke mata' menggunakan jaringan gusi dan pipi dari Novel.

"Operasi direncanakan dalam dua tahap. Tahap pertama akan dilakukan penanaman jaringan gusi dan pipi di mata kiri dan hasilnya harus menunggu perkembangan selama dua bulan setelah operasi. Kemudian melepas dan melihat perkembangan untuk penglihatan itu dalam waktu dua minggu setelah itu. Jadi perawatan pascaoperasi akan memakan waktu cukup panjang," kata Febri Diansyah kepada wartawan di kantor KPK, Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Baca juga:


Terkait penuntasan kasus penyerangan Novel, Febri Diansyah mengatakan KPK hari ini sudah mendapatkan surat resmi dari Kepolisian Indonesia untuk melakukan pemeriksaan Novel di Singapura. Dengan adanya surat itu, KPK selanjutnya akan berkoordinasi dengan tim dokter untuk pemeriksaan sebelum operasi.

Febri mengatakan pemeriksaan polisi terhadap Novel didahulukan, karena setelah operasi nanti Novel harus beristirahat total. Novel dilarang berinteraksi dengan banyak orang agar penyembuhan mata pascaoperasi bisa maksimal.

"Maka akan ada beberapa hambatan yang terjadi ketika selesai operasi. Kalau dikaitkan dengan kebutuhan pemeriksaan, maka operasi akan lebih tepat dilakukan setelah pemeriksaan polisi," kata Febri.

Meski demikian, Febri menegaskan, pemeriksaan terhadap Novel sebagai korban serangan teror bukanlah yang utama dalam penuntasan kasus ini. Apalagi Kepolisian Indonesia sudah memiliki pengalaman dan kemampuan yang mumpuni dalam menyelesaikan kasus-kasus serupa dan bahkan yang lebih besar.

"Seharusnya penetapan tersangka tidak menunggu pemeriksaan terhadap korban. Ini adalah instrumen saja, apalagi Presiden memiliki kepedulian dalam perkara ini hingga memanggil Kapolri beberapa waktu lalu," tambahnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau