Polri Periksa Novel Sambil Cocokkan Sketsa Wajah Pelaku

Setyo mengatakan sinkronisasi ke Novel dilakukan karena Kepolisian Australia (Australia Federal Police) tidak bisa mengidentifikasi CCTV yang diberikan penyidik Polri.

Senin, 14 Agus 2017 16:21 WIB

Kapolri Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7/2017). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Mabes Polri belum bisa membuka ke publik mengenai sketsa wajah terduga pelaku kedua dalam perkara teror penyiraman air keras ke arah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Juru bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto mengatakan saat ini, aparat fokus melakukan sinkronisasi terhadap sketsa terduga pelaku pertama ke Novel. Sinkronisasi dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan terhadap Novel Baswedan yang masih dirawat di Singapura.

Setyo mengatakan sinkronisasi ke Novel dilakukan karena Kepolisian Australia (Australia Federal Police) tidak bisa mengidentifikasi CCTV yang diberikan penyidik Polri.

"Sekarang yang pertama dikirim dulu ke Singapura. Kan Austalia sudah tidak bisa soal CCTV. Tim kita bergerak di sini dan ke Singapura, nanti dikroscek hasilnya," kata Setyo Wasisto di Mabes Polri, Senin (14/8/2017).

Polda Metro Jaya yang menangani kasus penyerangan Novel Baswedan sebelumnya meminta bantuan AFP untuk mengidentifikasi pelaku, melalui rekaman kamera CCTV yang terpasang di sekitar rumah Novel di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polri tidak bisa mengidentifikasi pelaku karena rekaman video di CCTV memiliki resolusi rendah.

Terkait sketsa pelaku kedua, lanjut Setyo, Polri memastikan hal itu masih diproses dan akan dilakukan setelah pemeriksaan Novel di Singapura selesai.

"Sekarang kan masih berlangsung pemeriksaan Novel. Nanti kalau sudah selesai, kami informasikan lagi," kata Setyo.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1