Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stagnan

"Harus diakui angka 5,01 ini masih di bawah ekspektasi. Tetapi saya akan bilang pertumbuhan 5,01 lumayan bagus kalau mempertimbangkan perekonomian global yang belum jelas situasinya."

Senin, 07 Agus 2017 15:35 WIB

Petani menjemur jagung di Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (5/8/2017). Sektor pertanian masih menunjang pertumbuhan ekonomi yang stagnan pada triwulan II 2017. (Foto: ANTARA/Dedhez Anggara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat stagnan sejak Januari hingga Juni 2017.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia di triwulan kedua tahun ini tumbuh 5,01 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Tingkat pertumbuhan itu melambat dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu sebesar 5,18 persen.

Meski begitu, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan pertumbuhan itu tetap perlu diapresiasi mengingat situasi global yang tengah tidak pasti.

"Harus diakui angka 5,01 ini masih di bawah ekspektasi. Tetapi saya akan bilang pertumbuhan 5,01 lumayan bagus kalau mempertimbangkan perekonomian global yang belum jelas situasinya dan di tengah penurunan harga komoditas," kata Suhariyanto, Senin (7/8/2017).

BPS mencatat ada pengaruh harga komoditas migas maupun non migas Indonesia yang turun dibandingkan triwulan I tahun ini. Harga minyak mentah turun 8,35 persen, batu bara turun 1,87 persen, palm oil turun samapi 9,84 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan triwulan ini masih ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang sebesar 8,44 persen. Secara umum, kata Suhariyanto, seluruh lapangan usaha---kecuali pengadaan lisrik dan gas---masih tumbuh positif.

Untuk realisasi pengeluaran pemerintah meningkat hingga 23,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar belanja tersalur ke pos belanja modal serta transfer daerah.

"Yang naik realisasi belanja modal yang akan berpengaruh ke investasi dan bantuan sosial. Untuk belanja pegawai dan barang karena efisiensi jadi turun," kata Suhariyanto.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.