Menteri Susi Sindir Nelayan Pantura yang Masih Gunakan Cantrang

""Jadi jangan di tempat lain sudah kemana, Nelayan Pantura masih saja iwak cilik-cilik yang harganya cuma Rp 5 ribu,"

Jumat, 25 Agus 2017 12:29 WIB

ilustrasi: Jaring cantrang. (Foto: KBR/Musyafa)

KBR, Jakarta- Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyindir Nelayan di Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa yang masih menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan seperti Cantrang. Susi mengatakan, penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan mengakibatkan populasi beberapa jenis ikan berkurang dan sulit ditangkap.

"Dulu Bawal Putih di Pantura banyak, Simping gede-gede, Rajungan juga besar-besar. Kalau ini sudah tidak ada jaring lamparan dasar atau Cantrang yang pakai gardan ini hilang pasti nanti gilnetnya akan dapat ikan yang gede-gede. Ikan besar harganya juga besar. Kalau dipikir tangkapan Cantrang yang dibuang di tengah laut saja sudah berapa persen kan. Belum dipilih lagi terus harganya murah," kata di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jumat (25/08/17).

Susi membandingkan kondisi Pantura dengan Pangandaran, Jawa Barat, yang sudah lama beralih menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Ia mengatakan, beberapa jenis ikan yang sudah belasan tahun hilang seperti ikan Layur dan Cakalang bisa ditangkap kembali. Selain itu, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan membuat ikan hasil tangkapan lebih   bernilai jual tinggi.

"Jadi jangan di tempat lain sudah kemana, Nelayan Pantura masih saja iwak cilik-cilik yang harganya cuma Rp 5 ribu," ujarnya.

Menurut Susi, pengalihan alat tangkap bukan untuk membatasi jumlah tangkapan Nelayan. Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan untuk mamastikan ikan terus ada dan bisa ditangkap secara berkelanjutan.

Atas dasar itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam pemberian fasilitas layanan perbankan dalam kegiatan penangkapan ikan. Beberapa kelompok Nelayan yang berasal dari Pantura mendapat fasilitas pinjaman penggantian alat tangkap ramah lingkungan. Jumlah pinjamannya variatif tergantung ukuran kapal dan jumlah Nelayan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.