Lagu Tepuk Anak Soleh ada Lirik Kafir No, FKUB Banyumas Minta Diubah

"Alangkah bagus seandainya kata kafir itu diganti dengan kata zalim. ‘Zalim zalim zalim No’. Sama-sama No, tapi kalau zalim itu, tidak menciptakan suasana baru,"

Kamis, 03 Agus 2017 10:30 WIB

Ilustrasi: Potongan Video berjudul "Tepuk Anak Soleh" yang diunggah pada 24 Desember 2014 sudah menggunakan lirik "Kafir No". (Sumber: Youtube)

KBR, Banyumas– Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menyarankan kalimat intoleran, yaitu ‘Kafir No’ di lagu ‘Tepuk Anak Soleh’ yang biasa dinyanyikan anak pendidikan usia dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) dihapus lantaran mengancam keberagaman. Ketua FKUB Banyumas, Muhammad Roqib mengatakan, lagu bisa memunculkan sikap intoleran lantaran penempatan lagu dalam konteks internalisasi mental anak didik.

Kata dia,   lagu ini yang dinyanyikan untuk memberikan semangat dan menginternalkan norma sebagai kaum muslim. Lagu  kata Roqib, berisi lirik  kecintaan terhadap agama Islam, rasul, Allah dan orang tua. Kata ‘Kafir No’ di akhir lagu dinilai bisa memunculkan sikap antipati terhadap agama lain.

Meski mengatakan   lirik lagu ini bersifat mendidik, dia   menyayangkan adanya lirik terakhir yang menurut dia tak perlu dipakai.  Menurut Roqib, lirik ‘No Kafir’ bukanlah kalimat asli dalam lagu itu. Sebab, sewaktu anaknya TK, dan biasa menyanyikan ‘Tepuk Anak Soleh’, lagu ini berakhir di lirik ‘Islam Islam Islam, Yes’.

Dia sendiri heran dengan munculnya lirik intoleran di akhir lagu itu. Lewat penelusuran yang dilakukan FKUB, lirik ‘Kafir No’ itu muncul beberapa bulan belakangan, dan kemudian memicu polemik.

“Bahwa penguatan terhadap keyakinan keagamanan itu cukuplah dengan penguatan itu. Tidak harus diajari, anak-anak itu, untuk sentimen atau merasa kurang nyaman dengan orang-orang yang tidak seagama dengan dia. Kalau pun ada tambahan, karena ini sudah kadung, alangkah bagus seandainya kata kafir itu diganti dengan kata  zalim. ‘Zalim zalim  zalim No’. Sama-sama No, tapi kalau  zalim itu, tidak menciptakan suasana baru, kaitannya dengan ini, pemahaman keagamaan. Semua agama tidak suka dengan kezaliman. Apapun agamanya. Sementara, kalau kata ‘kafir no’, orang-orang yang bukan beragama Islam itu seperti terlempar dari sebuah komunitas,” jelas Muhamad Roqib, Kamis (3/7/2017).
 
Lebih lanjut Muhammad Roqib   khawatir, lirik ‘No Kafir’ itu secara tak sadar akan memisahkan anak-anak yang agamanya berbeda. Menurut dia, jika lirik lagu ini terinternalisasi, maka akan berakibat pada minimnya penghargaan atas keberagaman.
 
Lagu ini menjadi polemik di Banyumas, setelah Ketua Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi) Banyumas, Khasanatul Mufidah mempertanyakan lirik lagu ini dalam pertemuan forum Pokja Pendidikan Keluarga (Dikkel) Kabupaten Banyumas.  Dia mengatakan menerima banyak masukan dari wali siswa agar lirik itu dihilangkan.

 Khasanatul Mufidah dalam keterangan tertulisnya mengatakan, sebelumnya dia mendapat aduan dari seorang orang tua siswa, bahwa anaknya tak lagi mau berteman dengan anak sebaya yang berbeda agama. Orang tua itu, kata Khasanatul, dipicu lagu yang berakhiran ‘Islam Yes, Kafir No’ tersebut.
 

Khasanatul  dalam forum tersebut  mempertanyakan kepada Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, apa sikap yang harus diambil kepada sekolah-sekolah di lembaga tertentu yang menerapkan lirik itu.  Dia mengaku khawatir kalimat di akhir lagu itu membentuk sikap anak yang masih polos itu menjadi intoleran kepada rekan sebaya yang berbeda agama.
 
Menjawab pertanyaan Khasanatul, Kepala Dinas Pendidikan Banyumas menyarankan agar lagu itu diakhiri dengan ‘Islam Yes’, sementara ‘Kafir no’ diimbau untuk dihilangkan.
 
Akan tetapi, rupanya saat itu ada wartawan media lokal yang menulis berita itu sehingga memicu kontroversi di tengah masyarakat yang pro dan kontra. Polemik lirik lagu ini juga viral di media sosial.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing