Kofi Annan Minta RI Bantu Tangani Krisis Rohingya

"Semua kekerasan harus dihentikan, karena sekali lagi yang akan menjadi korban adalah warga sipil," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Rabu, 30 Agus 2017 16:51 WIB

Anak-anak etnis Rohingya melewati air untuk masuk ke perbatasan Bangladesh di kawasan Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (28/8/2017). (Foto: ANTARA/Reuters/Mohammad Ponir Hossain)

KBR, Jakarta - Bekas Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Kofi Annan meminta Indonesia turut membantu menangani krisis Rohingnya di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan permintaan itu disampaikan langsung oleh Kofi Annan ketika menghubunginya beberapa waktu lalu. Kofi Annan saat ini memimpin Dewan Penasihat Independen negara bagian Rakhine.

"Kalau kita lihat dari temporary report yang dikeluarkan Agustus yang lalu, apa yang dilakukan Indonesia hampir tepat very well dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh komisinya Kofi Annan. Oleh karena itu, harapan dari Kofi Annan sangat besar sekali bahwa Indonesia dapat membantu mengimplementasikan rekomendasi-rekomendasi yang ada di dalam laporan Kofi Annan," kata Retno di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Menyangkut krisis yang menimpa etnis Rohingya, Retno mengatakan ia sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk membahas situasi terkini bersama penasihat keamanan nasional Myanmar, Aung San Su Kyi.

Retno mengatakan ia juga telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Bangladesh dan meminta agar turut membantu menangani pengungsi Rohingya.

"Bagaimanapun juga Bangladesh dan Myanmar harus melakukan kerja sama yang baik dalam penanganan, khususnya penanganan pengungsi. Tanpa kerja sama yang baik, akan sulit penanganan pengungsi ini dilakukan," kata Retno.

Menteri Retno Marsudi berencana mengunjungi Myanmar dalam waktu dekat. Rencana itu, kata Retno, sudah mendapat persetujuan Presiden Joko Widodo.

Retno menegaskan, Indonesia tetap mendorong agar kekerasan di Rakhine State segera dihentikan. Semua pihak diminta mengedepankan masalah kemanusiaan.

"Semua kekerasan harus dihentikan, karena sekali lagi yang akan menjadi korban adalah warga sipil," kata Retno.

Konflik di negara bagan Rakhine Myanmar kembali pecah pekan lalu, dengan bentrokan senjata antara kelompok militan Rohingya dengan pasukan keamanan Myanmar. Sedikitnya 89 orang tewas. Konflik ini memaksa ribuan warga sipil muslim Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1