Kementerian LHK Kaji Dampak Proyek Kereta Gantung di Wisata Kawah Ijen

Selain itu, juga dilakukan evaluasi kajian untuk melihat apakah luasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen mencukupi untuk proyek senilai sekitar Rp400 milyar tersebut, atau perlu diperluas.

Senin, 21 Agus 2017 21:46 WIB

Wisatawan menikmati fenomena api biru (blue fire) di kawah Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. (Foto: KBR/Friska Kalia)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bondowoso – Pemerintah pusat dan daerah belum memulai rencana pembangunan proyek kereta gantung (cable car) di wisata alam Kawah Ijen yang berada di dua kabupaten yaitu Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember Jawa Timur Agus Ngurah Krisna mengatakan Kementerian LHK sudah membentuk tim untuk mengkaji dampak yang mungkin timbul akibat pembangunan proyek kereta gantung itu.

Selain itu, juga dilakukan evaluasi kajian untuk melihat apakah luasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen mencukupi untuk proyek senilai sekitar Rp400 milyar tersebut, atau perlu diperluas.

"Soal kereta gantung itu masih dalam tahap kajian fungsi untuk melihat apakah Taman Wisata Alam itu masih layak dengan luasan 92 hektare atau luasnya perlu ditambah. Termasuk dampaknya seperti apa kalau diperluas, pengaruhnya pada ekosistem di sekitar Ijen bagaimana," kata Agus Ngurah Krisna kepada KBR, Senin (21/8/2017).

Ngurah mengatakan aturan yang ada membolehkan untuk memperluas kawasan Taman Wisata Alam, namun dengan syarat yang harus dipenuhi pihak pengembang. Salah satunya adalah kajian yang dilakukan tim khusus untuk melihat dampak dari berbagai sisi seperti ekologi dan sosial ekonomi.

Proyek pembangunan sarana kereta gantung di Wisata Ijen itu kabarnya melibatkan pihak swasta dan mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata.

Dua Kabupaten yang menjadi lokasi Gunung Ijen yakni Bondowoso dan Banyuwangi juga berbenah mempersiapkan berbagai infrastruktur pendukung di Kabupaten masing–masing. Proyek bernilai sekitar Rp400 milyar ini bahkan digadang–gadang akan mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kawah Ijen.

Baca: Pemerintah Pusat Siapkan Infrastruktur Penunjang Pariwisata Banyuwangi  
 
Kritik

Namun disisi lain, proyek ini juga memunculkan pertanyaan besar mengingat Kawasan Kawah Ijen selain merupakan  Taman Wisata Alam juga merupakan Kawasan Konservasi dan Cagar Alam.

Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Rere Christanto mengatakan secara umum situasi ekologi di Jawa sudah melewati beban puncak dari seluruh proses pembangunan salah satunya sektor pariwisata.

"Model pembangunan apapun termasuk pariwisata yang mengubah fungsi layanan alam seperti lindung jadi produksi atau taman nasional jadi wisata atau mengubah fungsinya tentu membahayakan wilayah itu," kata Rere.

Kawah Ijen merupakan kawasan Cagar Alam Ijen Merapi Ungup–Ungup yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember, Jawa Timur.

Kawasan ini merupakan wilayah tempat berbagai flora dan fauna yang dilindungi hidup seperti tanaman edelwis dan elang jawa serta kera ekor panjang yang hampir punah.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1