Kemenkominfo Telusuri Keterlibatan Korporasi Penyokong Aksi Saracen

"Kami perdalam hasil dari kepolisian, tapi kami tengarai ini pasti bukan kelompok, karena bergeraknya seperti bukan kelompok. Nanti akhirnya terbongkar juga mereka itu ada yang menggerakan."

Minggu, 27 Agus 2017 19:50 WIB

Ilustrasi.

KBR,Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menelusuri ada tidaknya keterkaitan korporasi dalam aksi Grup Saracen menyebar konten kebencian. Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Samuel Abrijani Pangerapan mengatakan, sepak terjang Saracen bukan sebatas kelompok penyebar kebencian melainkan telah menjadi industri.

"Kami perdalam hasil dari kepolisian, tapi kami sudah tengarai ini pasti bukan kelompok, karena mereka bergeraknya seperti bukan kelompok. Jadi benar-benar. Nanti kan akhirnya terbongkar juga mereka itu ada yang menggerakan," kata Sammy saat dihubungi KBR, Minggu (27/8).

Sejak Januari hingga Juli 2017 Kemenkominfo telah menutup 10.592 akun bermuatan SARA dan ujaran kebencian. Beberapa di antaranya kata Samuel, berkaitan dengan Saracen. Hingga kini kementeriannya masih menelusuri klien atau pengguna jasa grup penyebar konten kebencian tersebut.

"Kalau perusahaan besar belum tahu juga, masih kita selidiki tapi yang kita lihat ada permintaan atau kebutuhan maka orang membuat layanan bisnis seperti itu."

Baca juga:

Untuk menghentikan penyebarluasan ujaran kebencian atau informasi palsu, Samuel juga meminta partisipasi masyarakat dengan menciptakan konten tandingan. Langkah ini dianggap mampu mengonter dan menggeser isu bermuatan kebencian dengan konten positif.

"Makanya kami lihat, ini kita harus sudah punya kelompok tandingan. Yaitu kami mendorong kelompok masyarakat yang ingin menyebarkan konten positif," imbuh Samuel.

Selain itu dia mengimbau masyarakat untuk lebih cerdas dan cermat menyaring informasi dari dunia maya agar tak gampang terhasut portal atau akun semacam Saracen.

"Masyarakat harus sadar, bahwa benar ada segelintir kelompok yang karena ekonomi mau mempertaruhkan kesatuan dan persatuan bagsa. Makanya masyarakat harus tabayun jika menerima informasi atau berita dari akun yang belum jelas kebenarannya."

Bukan hanya Saracen, lanjut Sammy, kementerian dan kepolisian juga sedang mengawasi beberapa akun serta kelompok lain yang getol menyebarkan ujaran kebencian. Dia belum mau memerinci kelompok itu sebab masih dalam proses pendalaman.

Baca juga:





Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.