Inflasi Juli Turun Drastis ke 0,22 Persen

Inflasi Juli 2017 terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan sejumlah kelompok pengeluaran seperti bahan makan, makanan jadi, serta biaya pendidikan.

Selasa, 01 Agus 2017 18:08 WIB

Orang tua dan siswa di hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru di Ciamis, Jawa Barat, Senin (17/7/2017). Biaya pendidikan menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar Juli 2017. (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)

KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Juli 2017 sebesar 0,22 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan inflasi bulan yang sama tahun 2016 (year on year) sebesar 0,69 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan inflasi terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan sejumlah kelompok pengeluaran di antaranya bahan makan, makanan jadi, serta biaya pendidikan. Meski begitu masih ada beberapa bahan pangan yang harganya justru sudah terpantau turun.

"Bawang putih turun 0,07 persen, daging ayam ras juga turun 0,02 persen, beras dan cabe merah masing-masing turun 0,01 persen," kata Suhariyanto di Gedung BPS, Selasa (1/8/2017).

Angka inflasi Juli juga lebih rendah dibandingkan Mei 2017 sebesar 0,39 persen, serta Juni 2017 sebesar 0,69 persen karena pengaruh puasa dan lebaran.

Meski begitu, harga bahan pangan seperti ikan segar, telur ayam ras, bawang merah, sejumlah sayur-mayur, mi, nasi dengan lauk, hingga air kemasan justru naik.

Suharyanto mengatakan angka inflasi bulan Juli terutama disumbang oleh kenaikan harga makanan jadi, minuman, rokok, serta tembakau.

Untuk tarif dasar listrik (TDL), menurut Suhariyanto, sudah tidak banyak berpengaruh. Biaya pendidikan juga mengalami kenaikan hingga 0,62 persen karena bulan Juli bertepatan dengan penerimaan siswa baru.

"Juli ini tahun ajaran baru dimulai. Komoditas dominan di kelompok ini uang sekolah SD, SMA, dan tarif bimbingan belajar," kata Suharyanto.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1