Impor Gas dari Singapura, Luhut: Boleh Saja

"Impor dari mana aja kalau murah kan boleh saja. Mereka menawarkan harga lebih murah, kan boleh kita timbang."

Selasa, 22 Agus 2017 09:38 WIB

Ilustrasi: Kapal Cargo Tangguh Towuti Singapura pengangkut pertama Gas LNG Perta Arun Gas bersandar di Pelabuhan Blang Lancang, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (19/2/15). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Pemerintah serius menjajaki kemungkinan impor gas alam cair (LNG) dengan perusahaan asal Singapura, Keppel Offshore and Marine. Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merilis bahwa produksi gas alam cair dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan setidaknya sampai tahun 2019.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan beralasan harga yang ditawarkan Singapura lebih murah ketimbang produksi dalam negeri.

"Impor dari mana saja kalau murah kan boleh saja. Mereka menawarkan harga lebih murah, kan boleh kita timbang. Sekitar US$ 3,8/MMBTU kalau  tidak keliru," ujar Luhut di kantornya, Senin (21/8).

Dia mengklaim impor LNG itu akan mengefisienkan biaya produksi listrik. Ini diharapkan bisa membuat tarif listrik untuk masyarakat lebih terjangkau. Rencana impor masih dalam proses negosiasi. Jika berjalan lancar, kedua pihak akan menandatangani perjanjian kerjasama dalam waktu dekat.

Menurut dia, impor akan dimulai segera setelah infrastruktur pendukungnya rampung dibangun.

"Mungkin kalau pembangunan selesai, dua tahun lah ya."

Sebelumnya, Kementerian ESDM memperkirakan Indonesia tidak perlu mengimpor gas hingga 2019. Mereka optimistis akan ada tambahan produksi dari tiga lapangan yakni Lapangan Jangkrik, Tangguh Train 3, serta Blok Masela.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 45 Tahun 2017  menyatakan bahwa PLN atau badan usaha   bisa menggunakan LNG jika harga gas pipa lebih mahal 14,5 persen ICP sampai pembangkit. Jika harga LNG impor dan domestik sama, PLN dan badan usaha lain diwajibkan mengutamakan produksi dalam negeri.


Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemenang Tender Beberkan Nama Anggota DPR Penerima Suap Proyek Bakamla

  • 100 Hari Anies-Sandi, FPDIP Anggap Kebijakan Penataan Tanah Abang Paling Bermasalah
  • AS Tuding Rusia Terlibat Serangan Kimia Suriah
  • Barcelona Siapkan Nomor 7 untuk Griezmann, Bukan Coutinho

Susu menjadi asupan makanan penting pertama yang dikonsumsi manusia dan diperlukan manusia sepanjang hidup, bukan hanya ketika bayi dan balita saja.