HET Beras Diketok, Pengelola Pasar Beras Cipinang Kurangi Biaya Operasional

Langkah itu diambil agar pedagang tetap dapat untung.

Kamis, 24 Agus 2017 22:55 WIB

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan usai menentukan harga eceran tertinggi (HTE) beras antara pemerintah dengan perwakilan pedagang beras, petani, distributor dan pengusaha beras di Kantor Kementerian Per

KBR, Jakarta- Pengelola Pasar Induk Beras Cipinang (PICB) PT Food Station Tjipinang Jaya bakal mengurangi biaya operasional distribusi beras. Langkah ini menurut Direktur Utama PT Food Station Arief Prasetyo, merupakan bentuk penyesuaian setelah pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Di mana harga beras kualitas medium Rp 9.450 dan Rp 12.800 untuk beras premium. Dia mengakui kebijakan ini akan memangkas keuntungan pedagang. Namun batas atas harga yang dipatok itu menurutnya masih bisa dipenuhi selama pasokan beras aman.
 
"Kita harapkan sih teman-teman Kementerian Pertanian produksinya banyak. Doakan enggak ada wereng, enggak ada tikus. Saya yakin mereka punya planning. Mulai dari kuli angkut naik, kuli turun, transporter, lalu labour cost, sampai ada electricity. Semua itu ditanggung. Nanti berapa bottom line-nya, lalu marginnya berapa. Nanti kita sesuaikan," katanya di gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (24/8/2017)
 
Kemarin, Kementerian Perdagangan mengumumkan HET komoditi beras medium dan premium. Per 1 September, para pedagang di Jawa, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat dilarang menjual beras di atas HET. Sedangkan untuk kawasan di luar itu, HET akan mengalami penambahan sesuai dengan biaya distribusi. Apabila ada yang melanggar dan menjual di atas HET maka Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan mencabut izin dagang yang bersangkutan.

Enggartiasto mengklaim harga baru ini sudah mengakomodir keinginan pengusaha hingga petani. Penentuan harga dilakukan demi menstabilkan harga komoditi beras.

"Kita memperhatikan konsumen supaya daya beli mereka tidak terganggu. Tapi kita juga perhatikan berapa harga gabah, dan margin yang diterima pengusaha. Memang yang terbiasa dengan margin keuntungan besar, terpaksa harus menyesuaikan diri agar margin keuntungannya tidak terlalu besar," kata Enggartiasto di kantornya, Kamis(24/8).

Editor: Ika Manan 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Film G30S PKI Menuai Kritik, Wiranto: Tidak Mungkin Kita Mengubah Fakta Sejarah

  • Pemkab Karang Asem Bakal Minimalkan Lokasi Pengungsian
  • AS Larang Warganya ke Venezuela, Chad, dan Korea Utara
  • Australia Akan Punya Industri Antariksa