Harga Garam Petani Anjlok Hingga Rp1.200 per Kilo

"Minimal harga garam mampu bertahan pada kisaran Rp1.500 per kilogram, sehingga penghasilannya sebagai buruh bisa memperoleh Rp70–Rp80 ribu."

Senin, 14 Agus 2017 22:26 WIB

Ilustrasi. Petani memanen garam di Indramayu, Jawa Barat, Senin (31/7/2017). (Foto: ANTARA/Dedhez Anggara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Rembang - Harga garam di tingkat petani durun drastis. Garam krosok yang semula Rp4.500 per kilogram pada awal Agustus lalu, pada pertengahan bulan ini anjlok hingga Rp1.200-Rp1.300 per kilogram.

Kondisi ini meresahkan para petani tambak garam maupun para buruh garap tambak di Rembang, Jawa Tengah.

Salah seorang buruh tambak garam di Kecamatan Kaliori Rembang, Tono was–was dengan situasi ini karena berpengaruh terhadap penghasilan para petani penggarap lahan garam. Ia heran mengapa harga begitu cepat turun.

"Jangan–jangan pada akhir bulan Agustus nanti, harga garam masih akan terjun bebas. Saya berharap pemerintah lekas menyetop garam impor, supaya harga garam lokal tidak bertambah hancur. Mengingat kondisi cuaca sekarang panas terik dan produksi garam lokal sudah bisa diandalkan untuk memenuhi permintaan pasar," kata Tono kepada KBR, di Rembang, Senin (14/8/2017).

Keresahan juga disampaika buruh tambak garam lainnya, Rukani, warga Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

"Minimal harga garam mampu bertahan pada kisaran Rp1.500 per kilogram, sehingga penghasilannya sebagai buruh bisa memperoleh Rp70–Rp80 ribu. Kalau harga garam merosot Rp 1.000 ke bawah, untuk mendapatkan upah Rp50 ribu per hari akan sangat sulit. Saya ingin mengajak kepada kaum buruh dan petani garam, ayo bersama–sama demo mendorong pemerintah agar mengeluarkan kebijakan untuk melindungi harga garam dari permainan spekulan. Paling tidak ada standarisasi harga garam," kata Rukani.


Foto: Para buruh di Rembang mempercepat pasokan garam ke pabrik karena khawatir harga garam semakin anjlok. (Foto: KBR/Musyafa)
 
Salah seorang pengusaha garam di desa Purworejo kecamatan Kaliori, Rasmani meminta pemerintah mengatur distribusi garam impor supaya tidak menekan produksi garam lokal.

Rasmani melihat ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya harga garam belakangan ini. Faktor pertama karena produksi petani mulai meningkat, karena cuaca sangat mendukung. Hal ini membuat stok garam cukup banyak sehingga banyak harga menjadi lebih murah. Faktor kedua, merupakan imbas garam impor sebanyak 75 ribu ton yang masuk ke Indonesia. Ia meminta ada pengaturan distribusi.

"Menurut pendapat saya, pembentukan koperasi petani garam rakyat perlu diperbanyak melalui fasilitasi pemerintah, sehingga petani garam lokal menjadi lebih berdaya mengikuti ritme pasar," kata Rasmani.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polisi Selidiki Penadah dan Penyuplai Hasil Pendulang Emas Ilegal di Freeport

  • Bappeda DKI: Anggaran Kunker DPRD Naik Karena Djarot
  • Presiden Minta Malaysia Impor Beras Dari Indonesia
  • Kejati Tahan 2 Tersangka Mark Up Alat Tangkap untuk Nelayan di Mandailing Natal

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"